← Semua wawasan

Semakin Koheren setiap Elemen Video Pembelajaran, Semakin Tinggi Efektivitasnya

March 9, 2025 · 2 menit baca

Dalam skala bisnis, proses produksi video learning kini menjadi standar utama platform pelatihan perusahaan untuk mendukung program upskilling dan reskilling karyawan. Agar materi dapat…

12 Prinsip Pembelajaran Multimedia Richard E. Mayer

Dalam skala bisnis, proses produksi video learning kini menjadi standar utama platform pelatihan perusahaan untuk mendukung program upskilling dan reskilling karyawan. Agar materi dapat diserap dengan baik, perlu ada penerapan strategi desain instruksional yang tepat.

Salah satu kontribusi penting dalam video pembelajaran berasal dari seorang profesor Psikologi bernama Richard E. Mayer. Beliau menyusun 12 Principles of Multimedia Learning yang menjadi acuan esensial bagi desainer pembelajaran multimedia. Prinsip-prinsip ini mungkin terlihat cukup mendasar bila dibandingkan dengan standar zaman sekarang, namun di akhir 90-an, prinsip-prinsip ini memberikan jalan untuk kemunculan strategi-strategi yang efektif.

Prinsip-prinsip ini bisa dijadikan acuan dalam menerapkan berbagai elemen video pembelajaran seperti teks, gambar, motion graphic, dan sebagainya. Kita pun bisa menemukan banyak contoh penerapannya dalam berbagai video pembelajaran baik yang formal seperti dalam platform yang telah disebutkan sebelumnya maupun yang non formal seperti platform media sosial.

Prinsip Koherensi

Layaknya sebuah film, video pembelajaran perlu menggabungkan berbagai elemen supaya dapat mencapai objektifnya. Objektif pembelajaran bisa bermacam-macam tergantung kebutuhan, tapi umumnya peserta ajar diharapkan dapat menyerap sebanyak-banyaknya dari yang telah ditonton.

Dari 12 Principles of Multimedia Learning rumusan Richard E. Mayer, ada yang disebut dengan Coherence Principle alias Prinsip Koherensi. Koherensi di sini berkaitan dengan “nyambung”-nya elemen-elemen dalam multimedia pembelajaran tersebut.

Ternyata, pembelajaran akan lebih efektif jika informasi dimasukkan hanya yang relevan saja. Artinya, dalam pembuatan materi pembelajaran, baik teks maupun visual harus selaras dan saling melengkapi untuk mendukung objektif pembelajaran. Informasi tambahan atau konten yang tidak relevan sebaiknya dihindari karena dapat mengalihkan perhatian peserta didik dari pesan inti yang ingin disampaikan.

Contoh Penerapan prinsip koherensi Mayer dalam proses produksi video learning perusahaan

Informasi tambahan yang tidak relevan misalnya menyisipkan visual yang menarik namun tidak berkaitan langsung dengan topik pembahasan ataupun menyisipkan detail-detail teks yang tidak berhubungan langsung dengan diagram yang sedang dibahas.

Umumnya, prinsip ini sering dilanggar karena penyusun video ingin menampilkan visual atau animasi yang mengutamakan estetika saja. Terhadap audiens tertentu, ini mungkin bisa menjadi strategi yang pas. Namun, alangkah baiknya apabila estetika digabung dengan relevansi supaya objektif pembelajaran tetap tersampaikan sambil menarik perhatian peserta ajar melalui visual yang menarik.

Selain itu, visual yang terlalu rumit atau penuh dengan detail juga dapat membingungkan peserta ajar. Sebaiknya gunakan grafis yang sederhana dan mudah dipahami untuk mendukung materi secara visual, tanpa menambah kompleksitas yang tidak perlu.

Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda.

Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Siap untuk mentransformasi materi pelatihan perusahaan menjadi video learning atau video interaktif yang efektif?

Hubungi Monkey Melody sekarang melalui WhatsApp di +62 812-1954-8155, email ke info@monkeymelody.com, atau melalui link berikut.

Ingin versi singkatnya, diterapkan untuk perusahaan Anda?

Mari bicarakan apa artinya ini untuk Anda.

Hubungi kami