Di era digital learning seperti sekarang, kita dimanjakan dengan berbagai bentuk penyajian materi pembelajaran sepertinya misalnya, video interaktif dan video animasi. Sering kali, video pembelajaran yang biasa kita temui di antara menampilkan sosok narasumber di layar atau hanya menggunakan voice over. Manakah yang lebih efektif?
Menurut Richard E. Mayer, menampilkan sosok manusia dalam video pembelajaran bisa meningkatkan engagement dan pemrosesan kognitif. Hal ini berkaitan dengan Embodiment Principle yang merupakan ekspansi dari Personalization Principle. Embodiment Principle sendiri menyatakan bahwa kehadiran sosok atau karakter bisa membuat proses pembelajaran lebih efektif.

Namun, Mayer juga merumuskan Voice Principle yang menyatakan bahwa narasi dengan suara manusia asli (bukan suara robotik atau teks berjalan) lebih efektif dalam membantu pemahaman. Suara manusia yang dibawakan secara natural dapat memandu peserta ajar dengan nyaman, bahkan jika tidak ada wajah yang muncul di layar.
Artinya, selama voice over dibawakan dengan hangat, jelas, dan natural, tanpa terdengar seperti membaca naskah berita, materi masih bisa disampaikan dengan sangat baik.

Biasanya untuk materi yang kompleks dan bersifat teknis, kehadiran seorang ahli yang kredibel di bidangnya bisa membangun koneksi personal yang kuat dengan audiens dan meningkatkan kepercayaan audiens terhadap akurasi materi.
Namun kenyataannya, ada berbagai tantangan yang tidak memungkinkan adanya narasumber. Misalnya, Keterbatasan waktu dan biaya produksi, Konsep visual tertentu yang lebih cocok tanpa kehadiran narasumber, narasumber kurang pandai berbicara di depan kamera, dan sebagainya.
Voice over menjadi alternatif yang baik karena cenderung lebih fleksibel. Misalnya, karena cukup menggunakan suara, selama tersedia mikrofon dan ruangan yang efektif, kita tidak perlu menyiapkan perlengkapan lain dan dari segi waktu pun bisa disesuaikan.
Dalam memilih dua format ini, kita perlu mempertimbangkan berbagai aspek produksi dan berfokus pada objektif yang ingin dicapai. Apabila ada berbagai keterbatasan, voice over mungkin bisa menjadi opsi yang baik. Tentunya, kita juga perlu melihat apakah target audiens kita menikmati voice over ataukah justru lebih nyaman melihat sosok ahli secara langsung.
Apapun format yang dipilih, pada akhirnya yang perlu diprioritaskan adalah kualitas penyampaian. Baik melalui wajah seorang narasumber yang bersahabat, maupun melalui suara yang ramah dan artikulatif, yang terpenting adalah membuat pengalaman belajar menjadi lebih efektif dan menyenangkan serta mencapai objektif yang telah disusun.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.