Pernah tidak menonton video pembelajaran yang visualnya sangat menarik dengan grafis dan animasi yang dinamis, tapi setelah ditonton sampai habis, poin-poin utamanya justru tidak ingat?
Bisa jadi, video pembelajaran seperti itu hanya memprioritaskan estetika tanpa memadukannya dengan konteks pembelajaran. Hasilnya, pesan-pesan utamanya jadi tenggelam.
Dalam dunia digital learning yang makin kompetitif, estetika memang penting, tapi jangan sampai mengorbankan koherensi. Apalagi di ranah korporat, di mana training bukan sekadar hiburan, tapi harus memberikan dampak nyata terhadap performa karyawan.
Menurut Richard E. Mayer, tokoh penting di bidang multimedia learning, ada prinsip yang disebut Coherence Principle. Prinsip ini menekankan bahwa pembelajaran akan lebih efektif kalau semua elemen visual, teks, dan suara dalam video itu nyambung alias saling melengkapi untuk mendukung materi yang disampaikan.
Artinya, pembawaan voice over atau narasumber, grafis, teks, dan animasi bukan sebatas pemanis. Semua elemen harus dipilih dan dirancang sedemikian rupa melalui berbagai pertimbangan untuk mendukung proses belajar. Terlalu banyak hiasan atau informasi yang tidak relevan justru bisa mengalihkan perhatian peserta dari inti materi.
Di Monkey Melody, kami percaya bahwa keren dan koheren bukan dua hal yang bertolak belakang. Justru, keduanya bisa berjalan bersama asal dirancang sejak awal.
Salah satu kunci utamanya ada di tahap storyboarding. Sebelum animasi mulai digarap, tim kami mengonversi bahan materi menjadi naskah. Lalu naskah tersebut dikonversi menjadi storyboard visual.
Storyboard sendiri adalah rangkaian gambar atau sketsa yang berfungsi untuk menggambarkan alur visual dan narasi video yang dijadikan sebagai panduan untuk desainer dan animator. Elemen-elemennya mencakup urutan adegan, peletakan aset visual, pemilihan atau sketsa aset visual, arahan animasi, dan sejenisnya.

Dalam fase ini, tim kami membedah konten dan melakukan riset secukupnya supaya setiap aset visual mengandung konteks yang sesuai dengan yang disampaikan.
Tim storyboarder kami juga menentukan layout serta timing kemunculan dan pergerakan setiap elemen visual agar selaras dengan narasi yang disampaikan. Elemen-elemen ini nantinya akan menghasilkan animasi yang menarik dan akurat secara konten.
Di tahap pasca produksi, desainer dan animator pun memiliki panduan untuk mengonversi storyboard tersebut menjadi hasil visual yang menarik namun relevan dan mudah dicerna oleh peserta ajar.
Kami juga rutin berdiskusi dengan Subject Matter Expert (SME) bila diperlukan untuk memastikan bahwa visual yang kami buat tidak hanya estetik, tapi juga akurat secara teknis dan pedagogis.
Tentunya peserta pelatihan punya waktu dan perhatian yang terbatas. Kita semua ingin video pembelajaran yang menarik, tapi yang lebih penting: video tersebut harus berdampak. Koherensi bukan berarti membosankan. Dan estetika bukan berarti hanya fokus pada visual Keduanya bisa berpadu untuk menciptakan pengalaman belajar yang efektif dan menyenangkan.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.