Di awal-awal maraknya ChatGPT dan Large Language Model lainnya, banyak perusahaan berlomba-lomba membicarakan tentang potensi AI untuk menggantikan berbagai pekerjaan. Lalu muncul pertanyaan terkait peran manusia di tengah perkembangan tekonologi ini.
Saat ini, manusia tetap dibutuhkan, bukan untuk pekerjaan yang bisa diotomatisasi, melainkan untuk mengisi peran-peran yang membutuhkan kemampuan berpikir strategis, memecahkan masalah rumit, kepemimpinan, dan kemampuan lain yang masuk ke dalam kategori Human Skill. Human Skill kini bukan hanya pelengkap, tapi tulang punggung dari transformasi digital di perusahaan.
Dalam laporan L&D Investment Survey 2023 oleh Coursera, human skill menempati urutan prioritas nomor 2 setelah business skill. Bahkan, laporan 2025 Global Learning & Skills Trends dari Udemy menegaskan bahwa ketika Generative AI (GenAI) mengambil alih tugas-tugas rutin dan kuantitatif, manusia dibebaskan untuk fokus pada hal-hal yang lebih strategis dan berdampak besar.
Inilah mengapa kemampuan seperti analytical thinking, creative thinking, resilience, dan emotional intelligence justru menjadi semakin krusial. Dunia kerja pasca-GenAI bukan dunia yang sepenuhnya otomatis, melainkan kolaboratif, antara mesin dan manusia.

Lalu, apa saja human skill yang perlu dimiliki dan dikembangkan di era ini? Berikut tiga contoh skill inti yang sebaiknya menjadi prioritas dalam program pelatihan perusahaan.
Berpikir kritis membantu karyawan memilah informasi, menilai risiko, dan mengambil keputusan yang rasional. Ini sangat penting dalam konteks kerja modern di mana informasi datang begitu cepat, tidak selalu lengkap, dan sering kali penuh bias.
Teknologi berubah. Pasar berubah. Bahkan, struktur organisasi pun bisa berubah dalam waktu singkat. Di tengah ketidakpastian ini, keterampilan untuk beradaptasi menjadi nilai penting dalam setiap lini bisnis. Adaptabilitas bukan hanya soal survive dari perubahan, tapi bagaimana kita tetap produktif, belajar hal baru, dan menjaga motivasi ketika situasi tidak sesuai rencana.
Emotional intelligence bukan hanya tentang empati, melainkan soal kemampuan mengenali emosi diri sendiri, memahami orang lain, dan membangun hubungan kerja yang sehat. Dalam konteks tim yang lintas generasi dan lintas budaya, EQ menjadi jembatan komunikasi dan kolaborasi yang efektif.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.