Materi pembelajaran berbasis video sudah sangat umum dan dapat dijumpai di berbagai platform yang fokus utamanya bukan edukasi seperti TikTok, YouTube, dan sebagainya. Seiring waktu, standar video pembelajaran pun semakin meningkat. Motion Graphic misalnya, menjadi elemen wajib yang perlu dihadirkan supaya perhatian penonton bisa terjaga.
Namun, sekeren apa pun tampilannya, format video mendorong proses pembelajaran yang pasif. Jika penonton tidak menerapkan proses berpikir kritis selama menonton, hasilnya mungkin tidak akan meningkat secara signifikan dibandingkan dengan aktivitas belajar di dalam kelas.
Video konvensional memang memiliki kelebihan. Formatnya sederhana, biaya produksinya relatif lebih rendah, dan tentunya seperti yang kita alami selama pandemi, dapat diakses kapan saja. Bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan untuk mengonversi semua modul menjadi video, format ini masih relevan. Namun, kelemahan utamanya adalah rendahnya tingkat keterlibatan.
Sebaliknya, video interaktif dirancang untuk membuat peserta ajar aktif terlibat. Saat menonton, mereka tidak hanya menyerap informasi, tetapi juga diajak untuk mengklik, memilih, menjawab, atau bahkan menentukan alur pembelajaran sendiri. Contoh sederhananya, kuis singkat yang muncul di tengah video dapat mendorong peserta ajar untuk mengingat kembali topik yang dibahas sebelumnya.

Selain itu ada format interaktivitas lain yang dapat dicoba seperti diagram interaktif, skenario bercabang, dan sebagainya. Kelebihannya yaitu dapat meningkatkan engagement dan menjaga konsentrasi supaya bisa bertahan lebih lama sehingga harapannya dapat meningkatkan pemahaman. Tentu saja, produksi video interaktif membutuhkan perencanaan dan usaha ekstra.
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Computer Science Advancements, ditemukan bahwa dari 300 mahasiswa, kelompok yang belajar melalui video interaktif menunjukkan tingkat retensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan video konvensional. Selisih completion rate kedua kelompok sebesar 14%. Sedangkan selisih rata-rata durasi menontonnya sebesar 13 menit.
Tidak hanya itu, interaksi dengan konten meningkat drastis, dari rata-rata 3 interaksi per video menjadi 27 interaksi. Dampaknya pun terlihat. Skor hasil belajar kelompok interaktif 25 persen lebih tinggi dibanding kelompok konvensional.
Menariknya, peserta dalam studi tersebut juga melaporkan pengalaman yang lebih imersif. Mereka merasa seperti sedang “berdialog” dengan materi. Kuis dalam video memberi umpan balik instan, sementara skenario bercabang menstimulasi rasa ingin tahu. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori kognitif multimedia yang menyebutkan bahwa orang belajar lebih baik ketika aktif memproses informasi melalui kombinasi teks, visual, dan interaksi.
Temuan ini juga didukung oleh pengalaman Monkey Melody dalam memproduksi video pembelajaran interaktif. Monkey Melody telah membantu beberapa perusahaan menyusun video pembelajaran interaktif untuk kebutuhan pelatihan berbasis simulasi. Salah satu contohnya adalah pelatihan komunikasi Bahasa Inggris untuk perawat yang harus belajar berkomunikasi dengan kolega dan pasien dalam Bahasa Inggris.

Dalam proyek ini, video interaktif didesain menyerupai dialog simulasi, lengkap dengan segmen yang memicu peserta ajar untk mengingat kembali kosakata yang telah dipelajari. Tujuannya supaya peserta ajar memiiki gambaran seperti apa percakapan nyata di berbagai situasi.
Kami menggunakan tools seperti H5P dan memadukan desain UI yang sederhana namun responsif agar pengalaman belajar tetap nyaman diakses dari mana saja.
Selain itu, Monkey Melody juga pernah dengan KPK dalam penyusunan multimedia pembelajaran terkait materi Kode Etik dan Kode Perilaku. Dalam proses penyusunan konsep, kami mencari format yang memungkinkan peserta ajar untuk tidak hanya belajar sambil menikmati visual yang disajikan, tetapi juga teresap ke dalam sebuah cerita. Akhirnya kami memutuskan untuk menerapkan gaya cerita bercabang ala visual novel. Peserta ajar akan dihadapkan pada pilihan penting di titik-titik tertentu. Keputusan mereka akan memengaruhi jalan cerita dan ending sehingga pengalaman belajarnya terasa imersif.

Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.