Perkembangan teknologi AI saat ini bergerak dengan kecepatan yang sulit dibayangkan beberapa tahun lalu. Model AI yang saat ini dianggap paling mutakhir, bisa jadi akan segera disusul oleh model yang lebih canggih. Sebagai contoh, Google telah merilis Gemini 3 belum lama ini dengan kapabilitas yang unggul di berbagai area seperti teks, text to image, dan lainnya. Large Language Models (LLM) kini tidak hanya menangani teks, tapi sudah bisa menghasilkan video, audio, bahkan visual untuk kebutuhan bisnis. Artinya, potensi GenAI di tempat kerja terus melebar.
Di titik ini, Model seperti GAN (Generative Adversarial Networks) dan diffusion models sudah menjadi bagian dari adopsi massal lintas industri. Mulai dari marketing, HR, training, sampai operasional, semuanya mulai tersentuh AI.
Laporan IDC tahun 2024 menunjukkan bahwa adopsi AI secara global melonjak dari 55% di 2023 menjadi 75% di 2024. Antusiasme terhadap pembelajaran GenAI juga terlihat jelas. Pendaftaran kursus GenAI di Coursera melonjak 195% secara year-on-year menjadi lebih dari 8 juta peserta. Bahkan di 2025, hampir 700 kursus GenAI mencatat rata-rata 12 pendaftaran per menit, naik drastis dari hanya 1 pendaftaran per menit di 2023.
Masuknya GenAI ke dunia kerja membawa dampak dua arah, yaitu otomatisasi sekaligus augmentasi. Di satu sisi, GenAI diproyeksikan mampu mengotomatiskan hingga 30% jam kerja di Amerika Serikat pada 2030. Tugas-tugas administratif, pengolahan data dasar, hingga pembuatan konten standar akan semakin banyak dibantu mesin. Namun di sisi lain, GenAI juga justru memperkuat peran manusia dalam tugas-tugas kompleks, mulai dari pengambilan keputusan strategis, perencanaan, hingga pengembangan ide kreatif.
Di sinilah pergeseran besar keterampilan terjadi. Dunia kerja kini menuntut dua kelompok kompetensi yang berjalan berdampingan:
Menariknya, keterampilan AI kini tidak lagi eksklusif untuk tim IT. Sebanyak 66% eksekutif global pada Mei 2024 menyatakan bahwa keterampilan AI sudah menjadi kewajiban bagi karyawan baru non-teknis. Bahkan sering kali ekspektasinya cukup sederhana: mampu menggunakan tools dasar seperti ChatGPT secara efektif. Tak heran jika permintaan keterampilan GenAI di peran non-teknis melonjak hingga 800% sejak akhir 2022.
Di tengah lonjakan adopsi GenAI yang begitu cepat, peran HR dan Learning & Development menjadi semakin strategis. HR dan L&D kini berada di garis depan transformasi keterampilan perusahaan, menentukan apakah organisasi hanya akan menjadi pengguna AI, atau benar-benar mampu memanfaatkan AI sebagai keunggulan kompetitif.
Tantangan terbesarnya adalah menyusun peta pengembangan keterampilan yang relevan dan berkelanjutan. Mengajarkan cara menggunakan tools seperti ChatGPT, Copilot, atau platform AI lainnya masuk ke dalam fundamental yang perlu dilakukan. Namun, pola pikir baru seperti bagaimana karyawan bisa bekerja berdampingan dengan AI juga perlu dipertimbangkan.
Strategi pembelajaran pun mau tidak mau harus beradaptasi. Pendekatan satu arah lewat kelas konvensional akan semakin tertinggal. Perusahaan perlu mendorong pembelajaran berbasis praktik, simulasi, studi kasus nyata, hingga microlearning yang bisa diakses kapan saja. Di sinilah teknologi seperti pembelajaran digital ataupun yang mengandung fitur interaktif memiliki peran besar.
Sebelum disrupsi AI, platform media sosial umum seperti YouTube, Instagram, dan TikTok serta banyak platform E-learning seperti LinkedIn Learning, Coursera, dan Inspigo sudah menyediakan banyak video microlearning. LinkedIn Learning sendiri menyediakan lebih dari 22.000 course untuk memenuhi berbagai kebutuhan L&D seperti upskilling, reskilling, dan manajemen.
Kemajuan GenAI mendorong Divisi L&D untuk merancang program pelatihan yang lebih terarah dan berdampak. AI bisa membantu menganalisis data yang telah diperoleh perusahaan, tetapi keputusan tentang keterampilan apa yang perlu diprioritaskan tetap membutuhkan kepekaan manusia terhadap dinamika organisasi.
Di sinilah kurasi konten menjadi krusial. L&D perlu berperan sebagai kurator, memilah mana yang relevan dengan konteks perusahaan. Konten yang terlalu generik sering kali tidak cukup berdampak jika tidak diterjemahkan ke dalam studi kasus dan tantangan nyata di lingkungan kerja.
Selain itu, pendekatan pembelajaran juga semakin personal. Dengan bantuan teknologi, termasuk AI, perusahaan kini bisa merancang learning journey yang lebih adaptif sesuai dengan peran, level jabatan, hingga performa karyawan. Seorang supervisor tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan seorang individual contributor. Personalisasi inilah yang akan membuat pembelajaran terasa lebih mengena.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.