Sekarang, tim Learning & Development sudah lebih dimudahkan dalam mempersiapkan program pelatihan besar berkat perkembangan GenAI yang semakin canggih. Tahun ini pun, terlihat ada kompetisi global yang sangat cepat antara beberapa pemain besar, seperti Google dan Anthropic. Baik langsung maupun tidak, perkembangan ini menuntut perusahaan di Indonesia untuk mampu mengikuti.
Dalam lanskap GenAI saat ini, kemampuan multimodal menjadi sorotan utama. Model generasi baru mampu memproses gambar, audio, video, dan kode secara bersamaan. Di sisi Google, misalnya, Gemini 3 menunjukkan bagaimana AI dapat menganalisis sebuah video tokoh dan mengubahnya menjadi kartu flash interaktif, atau bahkan memberikan analisis yang lebih mendalam berkat fitur Controlled Multimodal Depth. Mode Deep Think juga meningkatkan kemampuan AI dalam menyelesaikan masalah kompleks lebih dari 50 persen dibanding pendahulunya.
Selain itu, Gemini 3 semakin matang dalam kemampuan coding dan agentic coding, sehingga perintah bahasa natural dapat langsung diterjemahkan menjadi prototipe aplikasi. Integrasi dengan platform Google Antigravity membuat AI mampu merencanakan dan mengeksekusi tugas software engineering secara otonom.
Sementara itu, Anthropic menghadirkan Claude Opus 4.5 yang menempati urutan pertama sebagai model AI paling kuat dalam bidang coding dan penggunaan komputer. Dengan pencapaian 80,9 persen pada benchmark SWE-bench Verified, salah satu standar coding dunia yang paling ketat, Claude mampu menyelesaikan proyek software yang biasanya memakan waktu beberapa hari hanya dalam hitungan jam. Banyak ahli meyakini bahwa model ini menjadi penanda masuknya era AI Agents, yaitu agen AI yang bisa memahami konteks, merencanakan, dan menjalankan tugas kompleks tanpa perlu supervisi manusia secara terus-menerus. Industri memperkirakan bahwa lebih dari separuh perusahaan akan mengadopsi AI Agents sebelum tahun 2027, menjadikannya fondasi baru dalam proses bisnis modern.
Adopsi GenAI dalam satu tahun terakhir juga meningkat secara drastis. Antara 2023 dan 2024, tingkat adopsi melonjak dua kali lipat menjadi 65 persen. Pada 2025, lebih dari setengah orang dewasa di Amerika Serikat sudah menggunakan GenAI dalam aktivitas sehari-hari. Efek bisnisnya pun signifikan. Setiap satu dolar yang diinvestasikan dalam GenAI diperkirakan menghasilkan nilai balik sebesar 3,70 dolar, menjadikannya salah satu teknologi dengan ROI terbaik saat ini.
Dampaknya terasa di berbagai sektor. Dalam layanan pelanggan, chatbot menjadi lebih empatik dan mampu membaca emosi. Di bidang manufaktur, waktu desain hingga produksi dapat dipangkas hingga 30 persen. Dunia kesehatan mulai memanfaatkan AI untuk mendeteksi demensia hanya dari sinyal EEG. Sementara di dunia pelatihan dan pendidikan korporat, GenAI memungkinkan pembuatan konten belajar yang adaptif dan dipersonalisasi secara otomatis.
Skala pertumbuhan ekonominya juga tidak main-main. Pasar GenAI diproyeksikan mencapai 1,3 triliun dolar pada tahun 2032, naik sangat jauh dari 40 miliar dolar di tahun 2022. McKinsey memperkirakan nilai ekonominya bisa menembus 4,4 triliun dolar per tahun secara global, dengan kontribusi langsung terhadap peningkatan produktivitas tenaga kerja antara 0,1 hingga 0,6 persen per tahun hingga 2040. Angka-angka tersebut menegaskan bahwa GenAI sudah menjadi komponen strategis dalam transformasi bisnis global.
Namun, adopsi cepat ini membawa tantangan yang sama besarnya. Risiko seperti deepfake, bias data, halusinasi AI, dan persoalan privasi menjadi perhatian khusus. Fei-Fei Li dari Stanford Human-Centered AI mengingatkan bahwa kemajuan GenAI harus sejalan dengan prinsip transparansi, keadilan, dan akuntabilitas. Pendekatan human-in-the-loop menjadi semakin relevan karena meskipun AI dapat memproses dan mengeksekusi banyak hal, keputusan penting tetap harus melibatkan manusia untuk memastikan integritas dan nilai etis tetap terjaga. Selain itu, biaya implementasi AI tingkat lanjut masih cukup tinggi, dan kebutuhan komputasi yang besar menuntut perusahaan untuk mencari solusi komputasi yang lebih hemat energi, terutama menjelang meningkatnya target adopsi GenAI secara global pada 2030.
Di tengah tren besar ini, korporasi Indonesia perlu mengambil langkah strategis yang tidak terburu-buru, tetapi juga tidak lamban. Langkah pertama adalah aktif mengeksplorasi area bisnis yang paling relevan untuk GenAI, dimulai dari pilot project kecil yang langsung menyentuh permasalahan nyata. Langkah berikutnya adalah berinvestasi pada pengembangan SDM. Bukan AI yang akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang memanfaatkan AI-lah yang akan menggantikan mereka yang tidak.
Oleh karena itu, upskilling menjadi fondasi penting bagi keberhasilan transformasi digital. Selain itu, perusahaan perlu membangun kerangka etika dan tata kelola yang jelas untuk memastikan keamanan data, kualitas output, dan tanggung jawab penggunaan AI. Kolaborasi juga memegang peran penting. Tidak semua perusahaan harus membangun teknologi dari nol. Mengandalkan mitra teknologi dan startup dapat mempercepat proses adopsi secara signifikan. Pada akhirnya, GenAI harus diintegrasikan sebagai bagian dari visi bisnis jangka panjang dan sebagai pendorong inovasi dan pengembangan perusahaan.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.