Data terbaru menunjukkan bahwa 95% perusahaan di Amerika Serikat sudah menggunakan teknologi GenAI, dengan penggunaan mingguan yang melonjak dua kali lipat dibanding tahun lalu. Yang menarik, Banyak organisasi mulai memanfaatkan teknologi ini untuk memproduksi konten pembelajaran, khususnya video training yang selama ini dianggap mahal dan memakan waktu. Pertanyaannya apakah kemudahan menciptakan konten otomatis ini lantas menjamin efektivitas pembelajaran?
Riset McKinsey di awal 2024 mengungkapkan bahwa 65% organisasi kini secara rutin menggunakan GenAI dalam operasional mereka. Angkanya meningkat drastis dari survei sebelumnya yang hanya mencatat 34%. Platform pembelajaran seperti Udemy melaporkan ledakan pendaftaran kursus GenAI, dengan ChatGPT menjadi skill yang paling banyak dipelajari secara global. Bahkan Coursera mencatat ada seseorang yang mendaftar kursus GenAI setiap menitnya sepanjang tahun lalu.
Yang lebih menarik lagi adalah pergeseran peran dan fungsi kerja yang terjadi. Hampir 80% profesional kini sudah bereksperimen dengan GenAI dalam pekerjaan sehari-hari mereka, dan riset dari Indeed menunjukkan bahwa 46% dari skill kerja menghadapi apa yang mereka sebut hybrid transformation.
Di ranah Learning & Development sendiri, permintaan pelatihan literasi AI kini meluas ke semua level karyawan, tidak lagi terbatas pada posisi teknis saja. Bahkan mulai bermunculan peran-peran baru seperti AI content reviewer, GenAI trainer, dan AI-assisted instructional designer.
Pergeseran ini kemudian merambah ke area produksi konten multimedia pembelajaran. Selama bertahun-tahun, membuat video training yang berkualitas membutuhkan budget besar, tim produksi lengkap, dan waktu yang tidak sebentar. Kini, berbagai platform GenAI menawarkan solusi praktis.
Daya tarik utamanya jelas: kecepatan dan efisiensi. OpenText, misalnya, melaporkan peningkatan kecepatan pengembangan eLearning hingga 62% berkat penggunaan GenAI. Bayangkan, konten yang biasanya memerlukan berhari-hari atau berminggu-minggu untuk diproduksi, kini bisa jadi dalam beberapa jam saja. Belum lagi kemampuan untuk membuat versi multilingual atau mengupdate konten dengan cepat ketika ada perubahan kebijakan atau prosedur. Bagi banyak L&D professional yang selama ini kewalahan dengan timeline ketat dan budget terbatas, ini seperti mimpi yang jadi kenyataan.
Realitas di lapangan menunjukkan cerita yang berbeda. Data dari MIT dan RAND Corporation mengungkapkan bahwa 70-85% inisiatif AI gagal memenuhi ekspektasi yang diharapkan. Lebih mengkhawatirkan lagi, 77% perusahaan menyatakan keprihatinan mereka terhadap halusinasi AI, kondisi di mana AI menghasilkan informasi yang terdengar masuk akal tapi sebenarnya tidak akurat. Bahkan ada 47% pengguna AI enterprise yang mengakui pernah membuat keputusan bisnis penting berdasarkan konten yang ternyata salah. Sebagai respons, 76% perusahaan kini mengimplementasikan proses “human-in-the-loop” untuk menangkap kesalahan sebelum konten dipublikasikan.
Para ahli instructional design dan peneliti pembelajaran sepakat bahwa AI sangat bagus dalam membuat draft awal, tapi supervisi manusia tetap esensial untuk memastikan kualitas. AI punya keterbatasan mendasar yang tidak bisa diabaikan. Teknologi ini memiliki keterbatasan dari segi nuansa emosional, tidak bisa memastikan akurasi pedagogis tanpa panduan yang jelas, dan tidak bisa menyesuaikan konten dengan kultur perusahaan atau konteks spesifik dari peserta ajar.
Di sinilah peran instructional designer menjadi semakin krusial, bukan malah tergantikan. Mereka tetap dibutuhkan untuk menyusun script berdasarkan prinsip-prinsip learning science, membuat storyboard yang selaras dengan objektif pembelajaran yang jelas, melakukan refinement konten agar relevan dengan realitas organisasi, dan memastikan accessibility serta cultural sensitivity.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.