Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Computer Science Advancements, peneliti melibatkan 300 mahasiswa untuk membandingkan efektivitas video pembelajaran. Hasilnya? Kelompok yang belajar melalui video interaktif menunjukkan tingkat retensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan video konvensional. Completion rate kedua kelompok berbeda 14 persen. Lebih menarik lagi, rata-rata durasi menonton video interaktif lebih panjang 13 menit dibanding video biasa. Artinya, ketika ada keterlibatan dalam prosesnya, peserta ajar bisa lebih betah belajar.
Kenyataannya, rentang perhatian banyak orang memang sudah berubah drastis. Media sosial dan konten pendek ala TikTok misalnya telah melatih otak konsumennya untuk mengonsumsi informasi dalam bite-sized chunks. Di sisi lain, 68 persen karyawan juga lebih menyukai video-based learning ketimbang materi berbasis teks. Jadi video tetaplah medium yang efektif, asalkan kita tahu cara membuat videonya engaging.
Tapi interaktivitas itu seperti apa sih bentuknya? Menurut survei Kaltura di tahun 2024, elemen interaktif seperti kuis dan chat ternyata menjadi alat yang paling sering digunakan dalam pembelajaran digital. Keduanya terbukti meningkatkan keterlibatan peserta. Kuis mendorong peserta ajar untuk lebih aktif mengingat materi yang telah dibaca atau didengarkan. Sedangkan Chat memberikan ruang untuk bertanya atau berdiskusi secara real-time. Keduanya mengubah pengalaman menonton yang tadinya pasif menjadi aktif. Bentuk interaktivitas lain yang juga populer termasuk polling, branching scenario di mana peserta memilih jalan cerita sendiri, hingga hotspot yang bisa diklik untuk mendapatkan informasi tambahan.
Kalau kuis dan chat sudah menjadi mainstream, teknologi apa lagi yang bisa mendorong batas-batas pembelajaran digital? Di sinilah peran Virtual Reality dan Augmented Reality. Menurut beberapa studi, penggunaan teknologi simulatif seperti VR dan AR bisa meningkatkan retensi pengetahuan hingga 30 persen lebih tinggi dibanding metode digital konvensional. Ada penelitian dari PwC yang menemukan bahwa VR training bisa menghasilkan retention rate hingga 75-80 persen, jauh melampaui lecture atau video biasa yang cuma 10-30 persen.
Tapi tentu saja, tidak semua perusahaan membutuhkan atau bersedia berinvestasi dalam penerapan VR dan AR. VR sangat cocok untuk pelatihan yang melibatkan risiko tinggi, seperti pelatihan keselamatan di pabrik yang butuh praktik langsung. Untuk kebutuhan pembelajaran umum, video interaktif dengan fitur yang lebih mudah diakses justru bisa jadi pilihan yang lebih realistis.
Kami di Monkey Melody telah membantu beberapa perusahaan menyusun video pembelajaran interaktif untuk kebutuhan pembelajaran. Salah satu contohnya adalah pelatihan komunikasi Bahasa Inggris untuk perawat yang harus belajar berkomunikasi dengan kolega dan pasien dalam Bahasa Inggris. Dalam proyek ini, video interaktif didesain menyerupai dialog simulasi, lengkap dengan segmen yang memicu peserta ajar untuk mengingat kembali kosakata yang telah dipelajari. Tujuannya supaya peserta ajar memiliki gambaran seperti apa percakapan nyata di berbagai situasi.

Contoh lainnya adalah kerja sama kami dengan KPK dalam penyusunan multimedia pembelajaran terkait materi Kode Etik dan Kode Perilaku. Dalam proses penyusunan konsep, tim mencari format yang memungkinkan peserta ajar untuk belajar sambil menikmati visual yang disajikan sekaligus teresap ke dalam sebuah cerita. Akhirnya mereka memutuskan untuk menerapkan gaya cerita bercabang ala visual novel. Peserta ajar dihadapkan pada pilihan penting di titik-titik tertentu. Keputusan mereka memengaruhi jalan cerita dan ending sehingga pengalaman belajarnya terasa imersif.

Kedua proyek ini membuktikan bahwa interaktivitas bisa dimulai dari yang sederhana, tidak perlu langsung memanfaatkan teknologi yang sulit ataupun mahal. Yang penting adalah adanya usaha untuk mengubah peserta ajar dari penonton pasif menjadi partisipan aktif. Bahkan dengan tools yang relatif terjangkau, hasil yang dicapai bisa sangat signifikan dalam hal engagement dan retensi pengetahuan.
Ada data solid yang menunjukkan bahwa interaktivitas benar-benar berdampak pada completion rate, durasi menonton, dan yang paling penting retensi pengetahuan. Kedua, elemen interaktif seperti kuis dan chat sudah cukup efektif untuk meningkatkan engagement tanpa harus menguras budget. Ketiga, teknologi seperti VR dan AR memang powerful, tetapi sebaiknya digunakan untuk kebutuhan yang tepat.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.