Cara Cerdas Mendaur Ulang Rekaman Webinar

Daftar Isi

    Rekaman Webinar Adalah Potensi Besar yang Sering Diabaikan

    Dalam program pelatihan, sebuah perusahaan umumnya akan mengadakan seminar baik offline maupun online. Khusus untuk seminar online alias webinar, karena lebih mudah dan murah untuk diadakan, Frekuensinya bisa lebih sering. Namun sayangnya, rekaman-rekaman webinar ini cenderung belum dimanfaatkan dengan baik.

    Berdasarkan data dari Contrast, lebih dari 60 juta webinar diperkirakan diselenggarakan secara global menjelang 2026. Namun sebagian besar rekaman tersebut hanya berakhir sebagai file video pasif yang jarang disentuh kembali. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa mendaur ulang satu rekaman webinar bisa menghemat biaya hingga 75-90 persen dibanding membuat konten baru dari nol.

    Ada tiga alasan kuat mengapa mendaur ulang rekaman webinar adalah strategi yang cerdas untuk tim L&D.

    Pertama, efisiensi biaya yang sangat signifikan. Data dari Webinar.net menunjukkan bahwa biaya untuk mendaur ulang konten webinar hanya sekitar 10 hingga 25 persen dari biaya membuat konten baru yang setara. Platform Contrast mencatat bahwa penggunaan AI untuk mendaur ulang menghemat lebih dari 13.000 jam kerja pada 2024 saja, setara dengan penghematan sekitar USD 650.000. Untuk setiap webinar yang didaur ulang, mereka menghemat 4 hingga 10 jam kerja tim.

    Kedua, potensi jangkauan yang jauh lebih luas. Studi kasus yang dipublikasikan Webinar.net menunjukkan bahwa satu webinar dengan 200 peserta live berhasil menghasilkan 52 aset konten berbeda dalam tiga bulan, mulai dari 15 video media sosial, 8 artikel blog, 12 infografis, hingga 1 kursus mini lengkap. Hasilnya, traffic website mereka meningkat 340 persen.

    Ketiga, berkaitan dengan waktu karyawan. Penelitian dari Bersin by Deloitte menemukan bahwa karyawan hanya memiliki sekitar 1 persen dari minggu kerja merekaAda tiga alasan kuat mengapa repurposing rekaman webinar adalah strategi yang cerdas untuk tim L&D.

    Pertama, efisiensi biaya yang sangat signifikan. Data dari Webinar.net menunjukkan bahwa biaya untuk mendaur ulang konten webinar hanya sekitar 10 hingga 25 persen dari biaya membuat konten baru yang setara. Platform Contrast mencatat bahwa penggunaan AI untuk repurposing menghemat lebih dari 13.000 jam kerja pada 2024 saja—setara dengan penghematan sekitar USD 650.000. Untuk setiap webinar yang didaur ulang, mereka menghemat 4 hingga 10 jam kerja tim.

    Kedua, potensi jangkauan yang jauh lebih luas. Studi kasus yang dipublikasikan Webinar.net menunjukkan bahwa satu webinar dengan 200 peserta live berhasil menghasilkan 52 aset konten berbeda dalam tiga bulan—mulai dari 15 video media sosial, 8 artikel blog, 12 infografis, hingga 1 kursus mini lengkap. Hasilnya? Traffic website mereka meningkat 340 persen.

    Ketiga, kenyataan tentang waktu karyawan modern. Penelitian dari Bersin by Deloitte menemukan bahwa karyawan hanya memiliki sekitar 1 persen dari minggu kerja mereka untuk kegiatan pembelajaran. Dalam konteks seperti ini, video pembelajaran pendek yang dihasilkan dari daur ulang webinar akan sangat meningkatkan efisiensi. 

    Dari Rekaman Menjadi Video Pendek

    Tidak semua bagian webinar layak untuk didaur ulang. Kita perlu selektif dalam memilih segmen mana yang benar-benar bernilai tinggi dan bisa berdiri sendiri sebagai konten pembelajaran.

    Mulailah dengan melakukan audit konten. Tonton kembali rekaman webinar dan perhatikan beberapa metrik seperti memperhatikan titik-titik dengan engagement rate tinggi selama sesi live, bagian mana yang paling relevan dengan materi, dan lain sebagainya.

    Segmen yang cocok untuk didaur ulang biasanya memiliki objektif pembelajaran yang jelas dan spesifik. Segmen tersebut sebaiknya bisa dipahami dengan baik tanpa harus menonton keseluruhan webinar. Lalu akan lebih baik apabila kontennya masih relevan untuk beberapa bulan ke depan.

    Penelitian landmark dari MIT dan edX yang menganalisis 6,9 juta sesi menonton dari 128.000 mahasiswa menemukan satu pola yang sangat jelas. Video pembelajaran yang paling efektif berdurasi 6 menit atau kurang. Di atas angka tersebut, median engagement time tetap stagnan di sekitar 6 menit.

    Data dari LinkedIn Learning mengkonfirmasi pola yang sama dalam konteks korporat. Kursus dengan durasi di bawah 5 menit mencatatkan completion rate 74 persen. Sedangkan kursus dengan durasi di atas 15 menit? Completion rate-nya anjlok ke 36 persen saja. Perbedaannya sangat drastis.

    Artinya, webinar yang berdurasi 60 menit bisa dipecah menjadi 8 hingga 10 segmen pendek yang masing-masing berdurasi 5 hingga 7 menit. Dan berdasarkan data tadi, setiap segmen pendek bisa menarik rentang perhatian peserta ajar lebih baik ketimbang video webinar panjang.

    Format microlearning seperti ini juga terbukti meningkatkan retensi pengetahuan. Penelitian menunjukkan bahwa microlearning dapat meningkatkan retensi sebesar 25 hingga 60 persen dibanding metode tradisional. Selain itu, organisasi yang mengadopsi microlearning melaporkan peningkatan engagement dan produktivitas karyawan hingga 130 persen.

    Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

    Share:

    M. Rizky Fajar Ramadhan

    Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.