Platform besar seperti LinkedIn Learning dan Coursera sudah lama mengadopsi model yang dinamakan microlearning. LinkedIn Learning, dengan lebih dari 23.000 kursus yang terus diperbarui setiap minggu, membangun kontennya dalam format seri video pendek yang bisa diakses kapan saja. Durasinya bisa sependek kurang dari 3 menit, loh.
Coursera pun mengembangkan model yang serupa. LinkedIn Workplace Learning Report 2024 bahkan menyebutkan bahwa microlearning akan semakin menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Microlearning sendiri diartikan sebagai pembelajaran yang disampaikan dalam potongan kecil dengan tujuan dapat mendorong peserta ajar untuk fokus dan mencerna materi dengan lebih mudah. Salah satu format microlearning yang populer adalah video. Format ini adalah jenis microlearning yang Kami sering kerjakan di Monkey Melody. Ada alasan ilmiah yang kuat mengapa microlearning bisa efektif.


Cognitive Load Theory yang dikembangkan oleh John Sweller menjelaskan bahwa otak manusia memiliki kapasitas terbatas dalam memproses informasi sekaligus. Ketika materi terlalu padat, working memory menjadi penuh dan retensi pun menurun drastis. Menurut eLearning Industry, microlearning terbukti meningkatkan tingkat retensi antara 25 hingga 60 persen dibandingkan metode pelatihan konvensional. Angka completion rate-nya pun jauh lebih tinggi. Menurut Continu, Kursus microlearning rata-rata diselesaikan oleh 80 persen peserta, sementara kursus e-learning panjang hanya diselesaikan oleh sekitar 20 persen.
Salah satu studi kasus yang sering dibahas dan memang terbukti sukses adalah kolaborasi antara Walmart dengan Axonify. Walmart sempat menghadapi tantangan besar mengenai cara melatih lebih dari 75.000 karyawan di ratusan pusat distribusi dengan latar belakang generasi yang sangat kontras mulai dari Baby Boomers hingga Millennials.
Mereka meluncurkan program pelatihan keselamatan kerja berbasis gamified microlearning yang hanya memakan waktu 3 menit per sesi. Durasi ini dipilih karena merupakan waktu yang tepat saat para pekerja menunggu baterai forklift mereka diisi ulang. Setiap karyawan cukup masuk ke platform lalu menjawab 2 pertanyaan pilihan ganda yang dikemas dalam permainan interaktif dan langsung mendapatkan feedback saat itu juga.
Hasilnya pun sangat signifikan. Selama fase uji coba di 8 pusat distribusi, angka kecelakaan kerja turun drastis hingga 54 persen. Pemahaman karyawan soal keselamatan meningkat 15 persen dan yang paling mengejutkan adalah tingkat partisipasi sukarelanya yang menembus 91 persen.
Namun, coba sekarang bayangkan sebuah perusahaan farmasi yang ingin melatih staf baru untuk memahami mekanisme kerja obat yang kompleks. Apakah serangkaian video berdurasi tiga menit saja cukup? Kemungkinan tidak. Jenis pengetahuan seperti ini melibatkan banyak konsep saling terhubung serta membutuhkan kemampuan berpikir kausal dan pemahaman struktural yang mendalam.
Sebuah tinjauan akademis yang diterbitkan dalam Medical Education Bulletin (Nikkhoo et al., 2023) secara eksplisit menyimpulkan bahwa microlearning tidak cocok untuk topik yang membutuhkan pemahaman mendalam dan eksplorasi komprehensif. Metode ini efektif untuk penguatan dan retensi, tetapi tidak mampu membangun fondasi pengetahuan yang kompleks.
Para ahli sains pembelajaran menyebut fenomena ini sebagai efficiency paradox. Sesi belajar yang pendek memang terasa lebih cepat, tetapi justru bisa memperlambat perjalanan menuju pemahaman yang tahan lama ketika materi yang dipelajari sebenarnya membutuhkan sustained engagement atau keterlibatan mendalam yang berkelanjutan.
Karena inilah, perusahaan perlu memiliki perencanaan pembelajaran dengan objektif yang jelas. Microlearning memang memiliki keterbatasan, tetapi kehadiran microlearning bisa melengkapi media pembelajaran yang memfasilitasi pembelajaran mendalam seperti buku dan modul.
ntegrasi ini sangat krusial bagi tim L&D dalam merancang ekosistem pembelajaran yang menempatkan setiap media pada posisi yang tepat. Sebagai contoh, program onboarding teknis dapat dimulai dengan pendalaman materi melalui buku manual atau modul komprehensif untuk membangun fondasi berpikir, yang kemudian diperkuat dengan microlearning untuk retensi berkala. Begitu pula dengan pengembangan kepemimpinan; pemahaman teoritis dari literatur mendalam dan sesi diskusi kelompok tetap menjadi instrumen utama yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh cuplikan video singkat.
Inilah prinsip dasar yang sering terlupakan. Efektivitas sebuah alat bergantung pada ketepatan penggunaannya. Sebuah obeng yang berkualitas tinggi sekalipun tidak akan bisa menggantikan peran palu dalam menancapkan paku.
Pada akhirnya, microlearning adalah inovasi luar biasa yang didukung oleh data dan sains kognitif untuk menjawab kebutuhan belajar karyawan modern yang dinamis. Namun, kekuatannya adalah sebagai elemen pelengkap yang membuat ekosistem belajar menjadi lebih utuh dan efisien. Dengan memahami sinergi ini, tim L&D bisa merancang perjalanan pembelajaran yang mampu menghasilkan perubahan perilaku yang nyata dan berkelanjutan.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.