Ketika AI Masuk ke Ranah L&D di Indonesia

Daftar Isi

    Indonesia di Peta AI Global

    Tahu tidak? dari seluruh negara di Asia Tenggara, Indonesialah yang paling agresif dalam menggunakan kecerdasan buatan, dengan tingkat adopsi AI di kalangan pekerja yang mencapai 92%, jauh melampaui rata-rata Asia Pasifik sebesar 83% maupun rata-rata global di angka 75%. Angka ini merupakan cerminan dari masyarakat yang sudah menjadikan AI sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari.

    Data menggambarkan posisi Indonesia yang unik di lanskap AI dunia. Laporan World Bank (2024) menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari lima negara teratas dalam lalu lintas traffic ChatGPT secara global, bersama Amerika Serikat, India, Brasil, dan Filipina. Ini menunjukkan bahwa Indonesia bersaing langsung dengan negara-negara yang secara ekonomi jauh lebih besar.

    Di tingkat regional, McKinsey (2026) mencatat bahwa 51% perusahaan Indonesia telah melaporkan kemajuan menuju adopsi AI berskala, menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari dua pemimpin di Asia Tenggara, bersama Singapura. 

    Sementara Seasia.co melaporkan bahwa Indonesia dan Vietnam memiliki tingkat adopsi AI di populasi yang paling tinggi di kawasan, masing-masing sekitar 42%. Ini menunjukkan bahwa adopsi AI tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kekayaan atau infrastruktur yang maju.

    Survei global 2024 menemukan bahwa 80% masyarakat Indonesia memandang AI sebagai teknologi yang lebih bermanfaat. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan mayoritas berusia muda, Indonesia memiliki fertile ground yang luar biasa untuk pertumbuhan adopsi teknologi. Deloitte (2024) juga melaporkan bahwa 72% karyawan di Asia Tenggara sudah menggunakan generative AI di tempat kerja, dan penggunaan harian diperkirakan akan melonjak 232% dalam lima tahun ke depan.

    Namun menariknya, BCG dalam AI Maturity Assessment 2024 mengategorikan Indonesia sebagai rising contender, negara dengan potensi kesiapan yang tinggi, tetapi masih menghadapi kesenjangan nyata dalam investasi riset, infrastruktur digital di luar perkotaan, dan ekosistem AI yang matang.

    Tren Adopsi AI Merambah Dunia Learning & Development Korporat

    Di berbagai perusahaan, tim HR dan L&D sudah mulai memanfaatkan AI untuk mempercepat produksi konten pelatihan, mulai dari script otomatis, voice over sintetis, hingga avatar digital yang bisa berbicara dalam bahasa Indonesia. Platform seperti Synthesia, ElevenLabs, dan berbagai tools berbasis ChatGPT kini menjadi bagian dari workflow tim produksi video pembelajaran di banyak organisasi besar.

    Josh Bersin, salah satu analis paling berpengaruh di industri L&D global, menegaskan bahwa AI generatif mampu mengubah proses yang dulu memakan berminggu-minggu menjadi hitungan jam, dari pembuatan modul, personalisasi jalur belajar, hingga analitik pembelajaran secara real-time

    Synthesia melaporkan bahwa perusahaan yang menggunakan AI untuk produksi video training mengalami lonjakan keterlibatan peserta hingga 30% dibandingkan metode konvensional.

    Namun meskipun banyak tim L&D di Indonesia yang sudah memiliki literasi AI yang cukup, tetapi mereka belum tentu memiliki fondasi yang kuat dalam instructional design. Merancang video yang efektif secara pedagogis butuh wawasan dan keahlian khusus. AI bisa menghasilkan narasi yang fasih dan visual yang menarik, tetapi AI tidak secara otomatis memahami bagaimana cara manusia belajar.

    ELM Learning, sebuah lembaga instructional design terkemuka, mengingatkan bahwa seberapapun canggih AI yang digunakan, seseorang tetap harus mendefinisikan learning outcomes yang selaras dengan tujuan bisnis, memverifikasi bahwa konten akurat dari sisi subject matter, merancang cara penyajian materi dan interaksi peserta, serta memastikan seluruh konten memenuhi standar aksesibilitas.

    Tim produksi video pembelajaran yang efektif di era AI bukan hanya yang fasih mengoperasikan tools. Memahami Cognitive Theory of Multimedia Learning misalnya, juga sangat penting untuk merancang konten yang tidak membebani memori kerja peserta. 

    Mereka harus tahu kapan microlearning lebih efektif dari video panjang, bagaimana pipeline produksi yang efisien agar AI benar-benar menghemat waktu alih-alih menciptakan revisi berlapis, dan mengapa storyboard yang matang tetap menjadi fondasi yang tidak bisa dilewatkan meski AI sudah bisa men-generate visual dalam hitungan detik.

    Banyak perusahaan Indonesia yang sudah memulai perjalanan ini dengan langkah yang tepat, memanfaatkan AI sebagai akselerator, bukan pengganti kompetensi learning design. Mereka yang berhasil adalah yang memahami bahwa AI adalah alat dalam tangan seorang desainer yang wawasan, bukan pengganti dari kedalaman berpikir.

    Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

    Share:

    M. Rizky Fajar Ramadhan

    Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.