Kebutuhan akan video pembelajaran meroket pesat dalam beberapa tahun terakhir. Masih ingat di masa pandemi ketika hampir seluruh proses pelatihan atau training harus dilakukan secara daring atau online? Berdasarkan data dari 2021 Training Industry Report, 67% responden melaporkan ada training yang tertunda akibat pandemi. Bahkan 6% responden melaporkan lebih dari 75% training tertunda.
Perubahan mendadak ini memaksa banyak perusahaan untuk beralih ke online dan digitalisasi. Bahkan, beberapa tahun sejak pandemi, video learning menjadi salah satu alat pembelajaran yang paling sering dipakai.
Namun, memproduksi video learning yang efektif tidak sesederhana itu. Di dunia produksi video, terutama yang membutuhkan syuting, masalah teknis bisa terjadi tiba-tiba. Misalnya, baterai bisa habis lebih cepat dari perkiraan, mikrofon clip-on yang sudah terpasang rapi tiba-tiba menangkap suara gesekan pakaian, dan lain sebagainya. Padahal tim produksi sudah melakukan pengecekan penuh sebelumnya.
Dalam produksi video pembelajaran korporat, masalah teknis adalah salah satu penyebab paling umum terjadinya pembengkakan waktu dan biaya. Gangguan yang paling sering muncul mencakup kegagalan peralatan, mulai dari kamera hingga perlengkapan lighting, masalah audio, hingga kendala lokasi yang tidak terduga seperti suara lingkungan yang mengganggu atau keterbatasan akses listrik. Menurut praktisi di industri ini, ketidaksiapan menghadapi masalah teknis seringkali menjadi penyebab utama jadwal syuting yang meleset jauh dari rencana.

Yang membedakan tim produksi profesional dari yang sekadar amatir adalah kecepatan dan ketenangan tim dalam menghadapi masalah. Para praktisi berpengalaman selalu merekomendasikan dua lapis persiapan. pertama, pre-shoot checklist yang mencakup pengujian seluruh perangkat setidaknya satu hari sebelum syuting.
Dan kedua, sistem backup yang siap digunakan kapan saja. Contohnya, membawa baterai cadangan, kartu memori ekstra, kabel pengganti, dan bahkan unit kamera atau mikrofon tambahan jika anggaran memungkinkan. Perusahaan produksi seperti Grey Sky Films bahkan merekomendasikan alokasi dana kontingensi sebesar 10–20% dari total anggaran untuk mengantisipasi biaya tak terduga akibat masalah teknis.
Selain itu, recce atau kunjungan ke lokasi syuting sebelum hari H tidak boleh dilewatkan. Survei ini membantu tim memahami kondisi lokasi sehingga bisa menentukan berbagai hal seperti kondisi cahaya, posisi mengetahui posisi stop kontak listrik, merancang tata letak kamera yang optimal, dan lain sebagainya.
Kunci mentalitas yang perlu dimiliki seluruh anggota tim adalah adaptive problem-solving, yaitu kemampuan untuk tetap tenang, fleksibel, dan solutif saat kondisi tidak ideal. Karena dalam sebuah sesi syuting video, waktu adalah sumber daya yang sama berharganya dengan anggaran itu sendiri.
Dalam produksi video pembelajaran korporat, ada satu tantangan yang sering diremehkan namun berdampak besar, yaitu Subject Matter Expert (SME) yang berperan sebeagai narasumber yang memberikan penjelasan di depan video. Terkadang, SME yang sangat kompeten di bidangnya, belum tentu terbiasa berbicara di depan kamera. Keahlian teknis yang mendalam dan kemampuan tampil natural di hadapan lensa kamera adalah dua keterampilan yang sangat berbeda.
Karin Reed, penulis buku On-Camera Coach dan pelatih presentasi berpengalaman, mencatat bahwa bahkan profesional bisnis dengan pengalaman berbicara di depan publik pun sering kali kehilangan diri saat berhadapan dengan lensa kamera. Fenomena ini sering terjadi akibat dihadapkan oleh kondisi yang asing.
Fenomena ini sangat umum terjadi di lingkungan korporat. Seorang manajer safety yang biasa memimpin briefing ratusan karyawan di lapangan bisa tiba-tiba terlihat kaku dan berbicara terlalu cepat saat kamera dinyalakan. Seorang dokter ahli yang terbiasa menjelaskan prosedur medis kepada tim bisa kehilangan alur bicara begitu ada director yang mengarahkan.
Lantas, apa yang bisa dilakukan tim produksi? Pertama, proses mempersiapkan SME harus dimulai jauh sebelum hari syuting. Komunikasikan dengan jelas kepada narasumber tentang apa yang akan dibahas, bagaimana video akan digunakan, dan apa peran mereka dalam keseluruhan konten. Informasi ini memberikan rasa kendali yang secara signifikan mengurangi kecemasan. Jangan memberikan skrip penuh untuk dihafal karena hasilnya justru akan terlihat tidak natural dan kaku. Sebaliknya, berikan talking points utama dan dorong narasumber untuk berbicara dalam gaya mereka sendiri.
Kedua, pada hari syuting, ciptakan suasana yang nyaman sejak narasumber tiba di lokasi. Sambut mereka, perkenalkan kepada seluruh kru, dan jelaskan apa yang akan mereka lihat dan alami. Mulailah dengan percakapan santai sebelum kamera dinyalakan. Lakukan test take singkat yang tidak bertujuan menghasilkan rekaman terbaik dan membantu narasumber merasakan ritme berbicara di depan kamera.

Ketiga, teknik pengarahan (directing) yang efektif sangat menentukan. Hindari memberi arahan yang membuat narasumber semakin terbebani. Cukup fokuskan perhatian mereka pada topik yang mereka kuasai. Ketika narasumber berbicara tentang sesuatu yang benar-benar mereka pahami dan pedulikan, keaslian akan muncul dengan sendirinya.
Investasi waktu dan perhatian untuk mempersiapkan SME sebelum dan selama syuting bukan sekadar upaya mengurangi take yang terbuang. Ini adalah investasi pada kualitas konten itu sendiri. Seperti yang dicatat oleh tim IMPACT dalam program on-camera coaching mereka. ketika SME merasa lebih nyaman di depan kamera, mereka dapat menyampaikan konten dengan lebih jernih, lebih hidup, dan lebih mudah dicerna oleh peserta training.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.