Bagaimana Cara Otak Peserta Ajar Tidak Kelelahan Ketika Menonton Video Pembelajaran?

Daftar Isi

    Dua Jalur di Dalam Otak

    Pernahkah Anda duduk di depan layar, menonton video pelatihan yang penuh teks berjalan di layar, sementara narasi audio juga membahas hal yang sama kata per kata?

    Kebanyakan orang mungkin akan mengantuk. Ini karena di situasi seperti itu, tanpa disadari, otak kita bekerja dua kali lebih keras dari yang seharusnya. Pada akhirnya, informasi yang masuk pun jauh lebih sedikit dari yang diharapkan.

    Pada akhir 1960-an, psikolog Allan Paivio dari University of Western Ontario mengajukan sebuah teori yang kemudian mengubah cara kita memahami proses belajar. Teori tersebut dikenal sebagai Dual Coding Theory. Otak manusia ternyata memproses informasi melalui dua saluran yang terpisah dan independen. Saluran pertama adalah saluran verbal, yang menangani segala bentuk informasi berbasis bahasa. Sedangkan saluran kedua adalah saluran non-verbal, yang memproses informasi visual seperti gambar, diagram, animasi, dan sebagainya.

    Ketika seseorang menerima informasi melalui kedua saluran sekaligus, otak membentuk dua jejak memori yang saling terhubung. 2 representasi yang terkoneksi ini jauh lebih kuat daripada 1 representasi tunggal. Proses menyerap dan mempertahankan informasi secara jangka panjang pun menjadi lebih efektif.

    Paivio sendiri menyebut unit dasar dari kedua sistem ini sebagai logogen untuk representasi verbal dan imagen untuk representasi non-verbal. Keduanya dapat diaktifkan secara terpisah, tetapi ketika keduanya aktif bersama dan saling merujuk, itulah yang Paivio sebut sebagai dual coding

    Penelitian meta-analisis yang dilakukan Butcher (2006) menemukan bahwa menggabungkan teks dengan diagram yang relevan meningkatkan pemahaman sebesar 0,48 standard deviation dibandingkan teks saja. Terdengar kecil, tapi angka ini sangat substansial, loh.

    Mengapa Desain Visual-Verbal Sangat Penting

    Memahami Dual Coding Theory saja belum cukup tanpa memahami satu teori penting lain, yaitu bahwa setiap saluran memiliki kapasitas yang terbatas. Kita memiliki yang namanya Working memory alias ruang kerja otak tempat informasi baru diproses sebelum masuk ke memori jangka panjang. Working memory ini ada batasnya. 

    Psikolog George Miller sudah menunjukkan sejak 1956 bahwa rata-rata manusia hanya mampu menyimpan sekitar tujuh potongan informasi dalam working memory secara bersamaan.

    Di sinilah desain konten pembelajaran menjadi krusial. Ketika sebuah video pembelajaran menampilkan teks panjang di layar sekaligus menyajikan narasi audio yang membahas hal yang sama, saluran verbal menjadi kelebihan beban. Keduanya bersaing memperebutkan kapasitas yang sama. Alih-alih memperluas daya serap informasi, desain seperti ini justru menciptakan apa yang oleh John Sweller dalam Cognitive Load Theory-nya disebut sebagai extraneous cognitive load alias beban kognitif yang tidak perlu.

    Richard Mayer, yang membangun Cognitive Theory of Multimedia Learning (CTML) di atas fondasi Dual Coding Theory Paivio, membuktikan hal ini melalui lebih dari 200 eksperimen selama tiga dekade. Salah satu temuan paling signifikannya: peserta yang menonton animasi tentang proses pembentukan petir sambil mendengarkan narasi audio menghasilkan sekitar 50% lebih banyak solusi yang tepat dalam tes pemecahan masalah, dibandingkan peserta yang menonton animasi yang sama dengan teks di layar. 

    Prinsip ini, yang dalam kerangka Mayer disebut Modality Principle, menjelaskan mengapa begitu banyak video pembelajaran korporat yang gagal memberikan dampak. Biasanya diakibatkan oleh desain visual yang memuat terlalu banyak teks, sementara audio narasi berjalan bersamaan. Kombinasi ini membuat otak peserta terkuras sebelum sempat memproses inti dari pesan yang ingin disampaikan.

    Riset PopVideo menemukan bahwa karyawan 95% lebih mungkin mengingat pengetahuan yang disampaikan melalui video dibandingkan teks saja. Mayer sendiri menunjukkan bahwa instruksi multimedia yang mengikuti prinsip dual coding meningkatkan performa transfer test hingga 89% dibandingkan hanya dengan teks.

    Tantangan di banyak perusahaan terletak pada cara membangun pemahaman di dalam tim L&D bahwa estetika visual yang baik dan efektivitas kognitif adalah dua hal yang berbeda. Video bisa terlihat polished dan profesional, tetapi tetap gagal membantu peserta belajar jika elemen-elemen di dalamnya tidak saling melengkapi.

    Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

    Share:

    M. Rizky Fajar Ramadhan

    Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.