Hindari Video Pembelajaran yang Terlalu Ramai!

Daftar Isi

    Terlalu Fokus Terhadap Estetika Justru Dapat Memecah Fokus

    Pernah tidak melihat video pembelajaran yang dipenuhi dengan banyak anaimasi tapi malah membingungkan? Terkadang, demi menghindari kesan kaku dan membosankan, tim produksi menambahkan banyak elemen ke dalam satu video. Mulai dari musik latar yang dramatis, animasi pop-up di setiap sudut layar, hingga ilustrasi tambahan yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan materi inti.

    Belum lagi ketika kita berhadapan dengan Subject Matter Expert (SME) yang merasa semua detail informasi sangat penting dan wajib dimasukkan ke dalam slide presentasi. Hasil akhirnya, layar menjadi penuh dengan teks dan gambar. Mata peserta ajar pun kebingungan harus fokus ke mana.

    Pendekatan yang fokus terhadap visual yang ramai saja justru akan menjadi bumerang. Fokus peserta ajar menjadi terpecah dan tujuan dari program upskilling perusahaan tidak tercapai secara optimal. Inilah mengapa kita perlu menyadari pentingnya menjaga keselarasan setiap elemen multimedia dalam proses belajar.

    Dalam dunia instructional design atau desain instruksional, ada panduan kuat yang bisa kita andalkan untuk menjaga keselarasan elemen video, yaitu Coherence Principle (Prinsip Koherensi). Prinsip ini merupakan bagian dari Teori Kognitif Pembelajaran Multimedia yang dirumuskan oleh ahli psikologi pendidikan, Richard E. Mayer.

    Coherence Principle menyatakan bahwa orang akan belajar jauh lebih baik ketika elemen-elemen yang tidak relevan disingkirkan dari materi pembelajaran. Istilahnya less is more. Mengapa ini penting? Otak manusia memiliki kapasitas memori kerja (working memory) yang terbatas saat memproses informasi baru. Ketika sebuah video pembelajaran dijejali dengan materi yang menarik tapi tidak relevan, otak akan kelebihan beban kognitif.

    Bagaimana Cara Menerapkan Prinsip Ini?

    Teori tentu harus bisa dieksekusi di lapangan. Di Monkey Melody, kami menyadari bahwa memproduksi video animasi pembelajaran perlu memadukan unsur visual dan materi ajar sehingga peserta ajar dapat mencerna materi yang disampaikan dengan lebih mudah.

    Untuk mencegah terjadinya kelebihan beban kognitif pada peserta ajar, penerapan Coherence Principle sudah kami mulai sejak tahap penyusunan naskah (scripting) dan perancangan storyboard. Tim storyboarder kami bertugas sebagai semacam filter visual. Mereka akan membedah naskah, lalu menentukan elemen visual yang esensial untuk dianimasikan.

    Jika ada grafik yang hanya berfungsi sebagai pemanis tanpa menambah pemahaman kontekstual, elemen ini sebaiknya dihapus. Begitu juga dengan penempatan teks. Kami memastikan teks di layar hanya menyoroti poin kunci yang mendukung narasi voice-over, bukan menduplikasi seluruh transkrip perkataan narator. Melalui proses kurasi ketat di tahap awal ini, keselarasan antara tujuan belajar dan hasil akhir video bisa terus terjaga.

    Berikut adalah tiga langkah yang bisa langsung diterapkan:

    1. Pangkas Teks dan Informasi yang Tidak Perlu
    Jangan memindahkan seluruh paragraf modul ke dalam video. Hindari terlalu banyak memasukkan informasi-informasi detail yang dapat membuat durasi membengkak. Peserta ajar dapat membaca modul teks untuk mengakses informasi yang lebih detail. Tampilkan beberapa kata pokok dan biarkan penjelasan lengkapnya disampaikan oleh narator secara lisan.

    2. Gunakan Elemen Visual Sesuai Fungsinya
    Setiap gambar, ikon, atau ilustrasi yang muncul harus memiliki alasan yang jelas. Jika sedang menjelaskan sebuah proses fisika misalnya, tampilkan elemen penting seperti ilustrasi dan diagram yang relevan. Singkirkan grafis dekoratif yang tidak berhubungan, kecuali masih tergolong minimalis dan tidak memecah konsentrasi peserta ajar.

    3. Seleksi Penggunaan Audio dan Musik Latar
    Musik latar terkadang memang bisa membangun mood. Namun, dalam materi teknis yang kompleks atau penjelasan tata tertib yang butuh konsentrasi tinggi, musik justru sering menjadi distraksi. Hilangkan suara efek (sound effect) yang berlebihan, dan pastikan suara narator terdengar jelas serta dominan. Apabila menggunakan musik, pastikan volumenya cukup rendah sehingga tidak bersaing dengan voice-over.

    Merancang video pembelajaran dengan berpedoman pada Coherence Principle tidak akan membuat video kita jelas secara estetika. Justru, dengan penataan aset visual yang rapi dan koheren, hasilnya bisa lebih apik dan tentunya berpengaruh terhadap efektivitas belajar.

    Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

    Share:

    M. Rizky Fajar Ramadhan

    Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.