Fenomena Desainer Pembelajaran Dadakan

Daftar Isi

    Karyawan Mendadak Dibebani dengan Penyusunan Modul Pembelajaran

    Perusahaan besar biasanya memiliki tim atau instruktur khusus yang didedikasikan untuk menyusun materi pembelajaran karyawan. Namun, bagi perusahaan berskala lebih kecil, menyediakan SDM khusus untuk fungsi ini sering kali belum menjadi prioritas. Akibatnya, karyawan lapangan yang akhirnya maju mundur mengemban tugas sebagai pengajar sekaligus penyusun materi. Bayangkan seorang manajer operasional yang sehari-harinya andal menyusun laporan keuangan, tiba-tiba diminta membuat modul e-learning untuk kebutuhan pelatihan.

    Di ranah korporat Indonesia, fenomena ini sangat lazim dijumpai. Kita sering menyebut mereka sebagai Desainer Pembelajaran Dadakan, atau yang secara global lebih dikenal sebagai Accidental Instructional Designer.

    Menjadi desainer pembelajaran secara mendadak ternyata merupakan fenomena yang lumrah. Riset industri menunjukkan bahwa lebih dari 85% praktisi yang merancang pelatihan di perusahaan sebenarnya tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang teknologi pendidikan atau kurikulum. Mereka adalah para Subject Matter Experts (SMEs) atau staf internal yang terpilih karena dinilai paling menguasai materi operasional.

    Mari kita bedah fenomena ini dari kacamata Cognitive Theory of Multimedia Learning. Otak manusia, khususnya kapasitas memori kerja (working memory), memiliki ruang yang sangat terbatas untuk memproses dan mencerna informasi baru dalam satu waktu. Ketika karyawan dihadapkan pada tumpukan teks panjang tanpa hierarki visual yang terstruktur, mereka langsung mengalami beban kognitif berlebih.

    Otak peserta terkuras energinya hanya untuk memilah mana informasi utama yang harus diterapkan dalam pekerjaan dan mana yang sekadar pelengkap latar belakang. Ujung-ujungnya, motivasi belajar jatuh drastis. Peserta mengikuti modul pelatihan sekadar untuk menggugurkan kewajiban administratif, dengan pemahaman yang terbatas.

    Membekali dengan Empat Elemen Pembelajaran

    Untuk mencegah kasus serupa berulang, tim HR dan pimpinan Corporate Training memegang peranan pendamping yang sangat besar. Langkah pertamanya adalah dengan mengubah fundamental pola pikir mereka. Ajak mereka memahami apa saja yang perlu dipahami seorang desainer pembelajaran.

    Perkenalkan tim Anda pada konsep keseimbangan desain yang ideal, yang setidaknya harus memperhitungkan empat elemen utama berikut:

    1. Pendekatan Andragogi (Cara Orang Dewasa Belajar)

    Orang dewasa tidak belajar dengan cara menghafal teori layaknya anak sekolah yang bersiap menghadapi ujian nasional. Profesional di tempat kerja adalah pembelajar yang berpusat pada pemecahan masalah (problem-centered). Sebelum membuat satu slide atau satu baris naskah pun, mintalah pembuat materi untuk menjawab satu pertanyaan mendasar: “Masalah operasional apa yang akan langsung terpecahkan di lapangan jika karyawan menguasai materi ini?” Setiap elemen di dalam modul harus difokuskan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

    2. Kurasi Substansi Konten

    Sebagai pakar yang ahli di bidangnya, seseorang cenderung merasa bahwa semua rentetan informasi itu berharga. Tugas Anda adalah membantu mereka memilah informasi menjadi tiga tingkatan prioritas:

    • Harus Tahu (Must Know): Inti materi yang wajib dikuasai karyawan agar pekerjaan utama mereka selesai tanpa cacat. Bagian ini yang wajib masuk ke dalam modul multimedia interaktif.

    • Sebaiknya Tahu (Should Know): Latar belakang atau konteks proses kerja.

    • Bagus untuk Diketahui (Nice to Know): Sejarah perusahaan atau teori pelengkap. Kategori kedua dan ketiga sebaiknya dipisahkan menjadi lampiran dokumen bacaan yang bisa diunduh kapan saja, bukan dijejalkan ke layar modul utama untuk dihafalkan.

    3. Eksekusi Visual dan Navigasi Kognitif

    Desain visual dalam e-learning sama sekali bukan tentang membuat tampilan menjadi cantik atau penuh warna-warni semata, melainkan soal mengarahkan fokus mata pembelajar. Penggunaan ruang kosong (white space), warna yang kontras untuk menyorot kata kunci, dan ilustrasi yang terkalibrasi akan sangat membantu menurunkan beban pikiran peserta.

    Sebagai contoh, daripada menuliskan lima paragraf panjang tentang prosedur keselamatan mesin cetak, sebuah diagram animasi sederhana yang menyorot area bahaya secara visual akan jauh lebih efektif dalam menanamkan kewaspadaan.

    4. Pemanfaatan Teknologi Secara Tepat Guna

    Platform belajar atau LMS modern yang dibeli oleh perusahaan biasanya memiliki segudang fitur interaktif, namun sering kali terbengkalai. Dorong tim internal Anda untuk mengeksplorasi metode pembelajaran berbasis skenario (scenario-based learning). Misalnya, saat merancang modul penanganan komplain pelanggan, jangan hanya mendaftar frasa yang boleh dan tidak boleh diucapkan. Buatlah percabangan cerita di mana karyawan harus memilih respons dari beberapa pilihan saat menghadapi pelanggan marah, lalu tunjukkan langsung konsekuensi baik atau buruk dari pilihan mereka tersebut di layar.

    Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

    Share:

    M. Rizky Fajar Ramadhan

    Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.