Richard E. Mayer, seorang profesor psikologi terkemuka dari University of California, Santa Barbara, merumuskan sebuah prinsip yang dinamakan dengan Prinsip Personalisasi. Prinsip ini adalah bagian dari Teori Kognitif Pembelajaran Multimedia (Cognitive Theory of Multimedia Learning).
Singkatnya, prinsip ini menyatakan bahwa audiens akan belajar dengan jauh lebih baik apabila materi verbal disajikan dalam gaya percakapan ketimbang gaya formal yang kaku.
Otak manusia merespon seperti ini karena cara kerja psikologi sosial kita yang disebut dengan Social Agency Theory. Ketika sebuah media pembelajaran menggunakan kata ganti orang pertama dan kedua seperti kita, kami, atau Anda, dan menyusun kalimat dengan nada yang lebih hangat, otak pembelajar secara tidak sadar mengaktifkan mode interaksi sosial.
Otak manusia tidak dirancang untuk berkomunikasi dengan mesin atau sistem komputer. Ketika multimedia pembelajaran mampu menciptakan kondisi di mana audiens dapat mendengar sosok manusia berbicara, pembelajar cenderung merasa lebih terdorong untuk mendengarkan dan memahami.
Dalam situasi interaksi sosial yang ini, pembelajar lebih tergerak untuk mengerahkan lebih banyak upaya kognitif. Mereka mencoba memahami maksud dari lawan bicara dan memproses serta mengintegrasikan pengetahuan baru tersebut ke dalam memori jangka panjang dengan lebih efektif.
Sebaliknya, gaya bahasa yang terlalu formal bertindak sebagai sinyal kognitif bahwa konten tersebut bersifat searah dan impersonal, sehingga menurunkan dorongan alami otak untuk terlibat aktif.

Tantangan terbesar bagi para perancang instruksional dan pengembang konten adalah bagaimana mengintegrasikan prinsip personalisasi ini ke dalam multimedia yang bersifat interaktif. Dalam sebuah ekosistem interactive learning, audiens berperan aktif dan mampu mengontrol jalannya materi melalui kuis, branching scenarios, hingga game maps.

Meskipun modul memiliki elemen interaktivitas yang tinggi, kehadiran sosok yang memandu pembelajaran tetap memegang peran sentral sebagai kompas bagi pembelajar. Oleh karena itu, penulisan naskah harus dirancang sedemikian rupa agar prinsip personalisasi ada di setiap titik interaksi tersebut, terutama pada area-area kritis di mana pembelajar harus mengambil keputusan.
Sebagai contoh, pertimbangkan momen ketika pembelajar menghadapi sebuah kuis di tengah modul. Format konvensional biasanya akan memunculkan teks perintah sistem yang kaku. Namun, dengan menerapkan prinsip personalisasi, momen kuis ini dapat diubah menjadi sebuah dialog bimbingan yang suportif. Narator dapat memicu ingatan pembelajar dengan kalimat ajakan yang ramah untuk menguji pemahaman mereka sebelum melanjutkan ke bab berikutnya.

Begitu pula saat memberikan feedback terhadap jawaban pembelajar. Ketika jawaban yang dipilih salah, naskah suara dapat disusun untuk memberikan dorongan psikologis yang positif. Pendekatan naratif yang hangat seperti ini memastikan bahwa pembelajar merasa seperti sedang dibimbing oleh seorang mentor. Keterlibatan emosional inilah yang menjaga tingkat engagement tetap tinggi di sepanjang proses belajar.
Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa menerapkan gaya bahasa yang personal bukan berarti kita bisa menulis naskah secara asal santai. Personalisasi dapat diartikan sebagai proses membangun relevansi.
Setiap kreasi naskah harus tunduk pada karakteristik unik dan profil demografis dari audiens yang dituju. Di sinilah letak pentingnya proses analisis audiens sebelum produksi dimulai. Pendekatan personalisasi untuk kelompok karyawan baru yang berisikan talenta muda tentu akan sangat berbeda energinya dengan pendekatan untuk kelompok manajer senior, profesional medis, atau tim operasional teknis di lapangan.
Untuk audiens korporat tingkat manajerial, gaya percakapan yang dibangun tetap mempertahankan diksi bisnis yang presisi, namun disampaikan dengan struktur kalimat aktif yang ringkas dan nada bicara yang setara, seperti diskusi antar rekan kerja profesional yang sedang memecahkan masalah bersama.
Sementara itu, untuk tim lapangan, bahasa yang digunakan bisa lebih membumi, langsung pada inti masalah, dan sarat dengan istilah-istilah praktis yang akrab mereka temui sehari-hari. Frekuensi komunikasi perlu disesuaikan agar selaras dengan dunia kerja audiens, sehingga kehangatan yang dihadirkan terasa tulus dan kontekstual.
Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda.
Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Siap untuk mentransformasi materi pelatihan perusahaan menjadi video learning atau video interaktif yang efektif?
Hubungi Monkey Melody sekarang melalui WhatsApp di +62 812-1954-8155, email ke info@monkeymelody.com, atau melalui link berikut.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.