Tim Learning & Development (L&D) korporat sering kali menghadapi tantangan dalam mempercepat produksi multimedia learning berkualitas tinggi untuk kebutuhan pelatihan karyawan. Perubahan kebutuhan bisnis yang cepat mendorong kebutuhan proses produksi yang cepat pula.
Penerapan AI di dalam penyusunan pelatihan merupakan opsi yang telah diulik banyak perusahaan selama beberapa tahun belakangan. Menyadari hal tersebut, Monkey Melody menggelar acara Monki Nongki bertajuk “AI dalam Produksi Multimedia” secara hybrid sebagai ruang diskusi mengenai pemanfaatan AI di dalam alur produksi multimedia sebagai khususnya.
Sesi ini menghadirkan dua praktisi industri multimedia, yaitu Septian Pamungkas dari Monkey Melody dan Hafidh Idris dari After class Corner.


Saat ini, siapa pun dapat membuat gambar atau video menarik hanya dengan mengetikkan perintah dalam bentuk prompt. Namun, kemudahan teknis tersebut membuat estetika visual menjadi hal biasa.
Oleh karena itu, yang dapat menunjang keberhasilan sebuah konten pelatihan adalah pemahaman mendalam tim produksi tentang konteks masalah serta rasa empati terhadap peserta belajar.
Mas Hafidh menegaskan prinsip “Think like a human, explore with AI”. Jangan sampai prinsip ini terbalik dengan membiarkan AI berpikir untuk kita, sementara manusia hanya menjadi pelaksana teknis.
Artinya, bagian yang boleh digantikan oleh teknologi AI adalah pekerjaan labour work yang bersifat berulang dan tidak membutuhkan keputusan intuitif. Hal-hal teknis yang dapat diserahkan kepada AI meliputi beberapa proses berikut:
1. Pembuatan contoh visual awal (pre-visualization) untuk melihat penataan pencahayaan atau latar belakang video.
2. Pembersihan atau penghapusan elemen latar belakang yang mengganggu pada rekaman green screen.
3. Penyusunan kode otomatis sederhana seperti JavaScript untuk kebutuhan interaktivitas media.
4. Pemrosesan transkripsi otomatis dan perangkuman materi referensi berdurasi panjang.
Dengan menyerahkan tugas teknis tersebut kepada AI, perancang modul memiliki lebih banyak waktu untuk menyusun narasi yang kuat. Hasilnya, proses pengerjaan menjadi jauh lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas cerita.

Mas Septian pun membagikan pengalaman langsung tim Monkey Melody dalam mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja multimedia. Salah satu contoh utama yang dipamerkan adalah proyek Interactive Case Study Simulator untuk pelatihan komunikasi korporat.

Biasanya, pembuatan modul simulasi studi kasus membutuhkan tim pengembang yang besar serta waktu pengerjaan yang lama. Padahal, metode belajar terbaik bagi karyawan korporat adalah melalui praktik langsung secara interaktif.
Melalui pendekatan rapid prototyping, Monkey Melody memanfaatkan kombinasi beberapa teknologi AI untuk membangun sistem simulasi ini:
1. Anthropic Claude: Digunakan pada tahap konsepsialisasi awal, pemecahan logika naskah, hingga perbaikan kode aplikasi.
2. OpenRouter API: Berfungsi menghubungkan berbagai model AI secara fleksibel ke bagian belakang (back-end) aplikasi.
3. Gemini: Dimanfaatkan untuk menganalisis video referensi dan melakukan transkripsi teks secara otomatis.
4. ElevenLabs: Digunakan untuk melakukan kloning suara (voice cloning) dan menghasilkan alih suara (Text-to-Speech) yang alami.

Dalam demo aplikasi tersebut, peserta pelatihan dapat berperan sebagai manajer HR yang menangani keluhan karyawan. Peserta cukup berbicara menggunakan mikrofon. Sistem Speech-to-Text akan mengubah suara menjadi teks, lalu diproses oleh LLM untuk menghasilkan tanggapan yang relevan.
Setelah itu, jawaban teks dari AI diubah kembali menjadi suara melalui fitur Text-to-Speech secara real-time. Skenario ini memberikan pengalaman belajar yang acak, variatif, dan sangat mirip dengan situasi kerja nyata.
Pengembangan simulator interaktif ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan dapat memangkas durasi riset dan pembuatan prototipe secara drastis. Dengan demikian, tim L&D dapat langsung menguji coba konsep modul kepada pengguna sebelum melakukan produksi penuh.


Sesi diskusi interaktif dalam acara Mongki Nongki memicu banyak pertanyaan menarik dari para peserta, baik yang hadir di Bandung maupun via Zoom. Mas Septian dan Mas Hafidh menyetujui bahwa AI memang memiliki keterbatasan mendasar seperti kurangnya pemahaman nilai budaya perusahaan dan kepekaan emosional.
Karyawan di perusahaan tidak hanya belajar dari deretan data atau grafik yang indah. Mereka tergerak oleh cerita kegagalan, perjuangan, dan pengalaman nyata dari para senior atau rekan kerja mereka.
Oleh sebab itu, pesan utama dari acara Monki Nongki ini adalah mengajak seluruh praktisi multimedia dan L&D untuk menyambut teknologi AI dengan bijak. Gunakan AI sebagai asisten yang serba bisa untuk mengurus pekerjaan teknis yang memakan waktu. Namun, tetap pegang kendali penuh atas cerita dan pesan yang ingin disampaikan.

Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda.
Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Siap untuk mentransformasi materi pelatihan perusahaan menjadi video learning atau video interaktif yang efektif?
Hubungi Monkey Melody sekarang melalui WhatsApp di +62 812-1954-8155, email ke info@monkeymelody.com, atau melalui link berikut.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.