Dalam kerangka 12 prinsip Cognitive Theory of Multimedia Learning yang dikembangkan Richard E. Mayer, Signaling Principle atau Prinsip Penandaan menyatakan bahwa orang belajar lebih baik ketika materi multimedia menyertakan isyarat yang mengarahkan perhatian mereka pada elemen-elemen penting. Penerapan prinsip ini berfungsi untuk memandu proses seleksi kognitif yang sudah terjadi di dalam otak peserta sehingga menjadi lebih efisien.
Ini penting karena working memory manusia memiliki kapasitas yang sangat terbatas. Setiap kali peserta ajar menonton video pembelajaran, otak mereka harus melakukan tiga proses sekaligus, yaitu memilih informasi mana yang relevan (selecting), mengorganisasikannya menjadi representasi mental yang koheren (organizing), dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang sudah ada (integrating).
Tanpa penanda yang membantu proses selecting, peserta terpaksa memindai seluruh konten secara mandiri. Upaya kognitif ini menguras kapasitas yang seharusnya dialokasikan untuk memahami materi.
Meta-analisis Schneider dan rekan (2018) yang mencakup 103 studi dengan 12.201 peserta menemukan bahwa penandaan meningkatkan retensi dengan efek yang cukup signifikan. Penelitian Alpizar dan rekan (2020) yang menganalisis 29 studi eksperimental dengan 2.726 peserta juga mengonfirmasi bahwa signaling secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan hasil belajar.
Kedua meta-analisis ini menemukan bahwa penanda visual seperti panah dan highlight cenderung menghasilkan efek yang lebih kuat dibandingkan penanda tekstual seperti cetak tebal atau garis bawah, khususnya bagi peserta yang belum memiliki pengetahuan dasar yang kuat tentang materi.
Otak manusia memiliki kapasitas pemrosesan yang terbatas, sehingga peserta ajar dapat dengan mudah merasa kewalahan ketika diberikan informasi dalam jumlah besar tanpa penyusunan yang baik dan jelas. Signaling Principle membantu mengatasi hal ini dengan memberikan penanda yang jelas untuk menyoroti elemen-elemen penting, sehingga otak dapat memproses dan mengorganisir informasi dengan lebih baik. Dengan demikian, beban kognitif yang tidak perlu dapat dikurangi, dan pembelajaran menjadi lebih efisien.
Signaling umumnya bukan sesuatu yang ditambahkan di tahap post-production. Elemen penanda idealnya sudah direncanakan sejak fase storyboard. Di tahap perencanaan ini, tim produksi masih bisa berdiskusi dan melakukan revisi dengan mudah ketimbang ketika sudah dibuat desain dan animasinya.
Dalam praktiknya, bentuk penandaan dalam video pembelajaran bisa sangat beragam. Pada dasarnya, elemen sederhana seperti tanda panah dan poin-poin teks sudah sangat memadai untuk mengarahkan atensi peserta. Penggunaan panah berfungsi sebagai pemandu visual yang krusial, terutama saat menyajikan banyak informasi dalam satu layar. Dengan menyelaraskan gerakan panah dan narasi audio, pengajar dapat memastikan audiens fokus pada detail yang tepat serta memahami keterkaitan antar elemen informasi secara lebih sistematis.

Selain panah, bullet points juga bisa menjadi alat yang penting meskipun kita mungkin sudah sering gunakan dalam slide sederhana. Bullet points dapat digunakan untuk menekankan beberapa poin utama, menjabarkan elemen-elemen kecil dari sebuah elemen besar, menjabarkan langkah-langkah, dan sebagainya.
Selain itu, Highlight box dengan warna kontras juga bisa menekankan elemen teks atau angka. Apabila elemen tersebut dirasa terlalu berlebihan, Zoom-in bisa diterapkan untuk memberikan nuansa yang lebih modern.
Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua pembuat storyboard juga mampu menentukan apa yang perlu ditandai. Memilih elemen mana yang perlu mendapat penekanan adalah bagian dari keputusan pedagogis. Dan keputusan ini hanya bisa dibuat oleh seseorang yang memiliki pemahaman materi yang baik.
Seorang storyboarder mungkin tahu cara menempatkan highlight box yang menarik secara visual, tetapi tidak tahu cara menempatkan box tersebut secara strategis. Itulah mengapa kolaborasi antara tim storyboard dengan Subject Matter Expert (SME) di fase awal produksi sangat penting. Semua keputusan ini menjadi rangkaian instruksi yang digunakan sebagai panduan bagi desainer, editor, dan animator.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.