Setiap tahun, persentase talenta Generasi Z di lingkungan kerja terus bertambah. kehadiran talenta muda ini membawa tantangan tersendiri untuk bagian HR dan L&D, terutama dalam merancang program pelatihan dan pengembangan.
Meskipun Learning Management System (LMS) sebuah perusahaan sudah dibangun dengan berbagai fitur yang keren, kita perlu memastikan supaya karyawan baru mampu menyerap modul ataupun video pembelajaran dengan efektif, dan tidak sebatas untuk memenuhi persyaratan saja.
Kenyataannya, Gen Z tumbuh di era konsumsi informasi yang sangat instan dan visual. Mereka terbiasa mencerna informasi melalui format video pendek berdurasi singkat, bahkan rata-rata kurang dari satu menit di media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Ketika dihadapkan pada modul e-learning konvensional berbasis teks yang tebal, atau rekaman video orientasi berdurasi puluhan menit tanpa henti, kebosanan adalah respons yang sangat wajar. Rentang atensi mereka tidak terbiasa untuk memproses informasi pasif dalam porsi masif sekaligus. Jika kita bersikeras mempertahankan metode lama, selain membuang-buang waktu dan biaya, kompetensi karyawan akan menjadi stagnan.

Untuk menjembatani kesenjangan gaya belajar ini, kita perlu melihat kembali bagaimana otak manusia bekerja saat menerima informasi baru. Dalam dunia desain instruksional, ada prinsip penting yang dikenal sebagai chunking. Chunking adalah strategi memecah materi pembelajaran yang padat dan kompleks menjadi potongan-potongan informasi kecil yang lebih mudah dicerna oleh memori kerja (working memory) kita.
Sebagai contoh, daripada memberikan satu video berdurasi panjang yang menjejalkan seluruh Standar Operasional Prosedur (SOP) perusahaan, akan jauh lebih efektif jika materi tersebut dipecah menjadi belasan video, yang masing-masing hanya berdurasi 2 hingga 5 menit.
Pendekatan ini sangat sejalan dengan konsep Just-in-Time learning. Karyawan modern, khususnya Gen Z, memiliki pola pikir yang pragmatis dalam belajar. Mereka ingin mendapatkan informasi spesifik tepat sesuai kebutuhan. Dengan format potongan video yang ringkas, karyawan tidak perlu menghafal seluruh prosedur di awal. Mereka cukup mencari dan menonton video yang relevan saja.
Pertanyaannya, bagaimana kita memastikan video berdurasi singkat ini tidak kehilangan esensinya?
Di Monkey Melody, tim kami kerap menerima tantangan dari klien yang mengeluhkan rendahnya completion rate dan ingin merombak modul lama mereka menjadi materi visual yang lebih relevan untuk karyawan muda. Tantangan utamanya adalah bagaimana materi bisa dikurasi sedemikian rupa sehingga substansinya tetap utuh tapi bisa disampaikan dalam durasi yang singkat. Proses perombakan ini membutuhkan kolaborasi yang erat antara Instructional Designer, Subject Matter Expert (SME) dari pihak klien, dan tim produksi multimedia.
Untuk memproduksi video microlearning yang ramah atensi Gen Z namun tetap memenuhi standar ketat pelatihan korporat, ada beberapa pendekatan teknis yang bisa diterapkan:
1. Satu Video, Satu Tujuan Pembelajaran
Untuk menjaga durasi, setiap video sebaiknya fokus membahas satu topik spesifik. Sebagai contoh, dalam sebuah video berjudul Penggunaan Software HR, kita bisa memecahnya menjadi beberapa topik seperti “Cara Mengajukan Cuti Tahunan”, “Cara Mengunduh Slip Gaji”, dan lain sebagainya. Narasi menjadi lebih terarah, dan peserta ajar tahu persis solusi apa yang akan mereka dapatkan.
2. Menghapus bagian yang Bertele-tele
Dalam video berdurasi pendek, desain video perlu dirancang sedetail mungkin. Tim penulis naskah dan storyboarder kami memastikan elemen-elemen esensial tersampaikan dan tervisualisasikan dengan baik serta menghindari kalimat yang bertele-tele.
3. Memaksimalkan Elemen Visual Dinamis
Karena audiens generasi Z terbiasa dengan ritme visual yang cepat, video yang hanya berisi rekaman talking head (seseorang berbicara ke arah kamera) dengan latar belakang statis sudah tidak cukup. Penggunaan animasi, motion graphic, serta transisi yang mulus sangat penting untuk menjaga mata peserta tetap tertuju pada layar. Teks animasi digunakan untuk mempertegas kata kunci atau poin-poin penting, sehingga informasi lebih cepat terekam di ingatan.
Perpaduan antara prinsip desain instruksional yang sesuai dan eksekusi visual multimedia yang matang harapannya dapat menciptakan ekosistem belajar yang menghasilkan dampai baik untuk perusahaan.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.