Saat menghadapi kendala kerja sehari-hari, mulai dari mencari formula Excel hingga menyusun draf laporan keuangan, refleks pertama kita adalah membuka Google, YouTube, atau mengetik prompt di GenAI. Kita terbiasa mendapatkan solusi spesifik secara instan, begitu kita menghadapi masalah spesifik.
Sayangnya, kemudahan ini tidak dihadirkan saat seorang karyawan memasuki fase onboarding. Biasanya, sesi kelas yang panjang ataupun video berdurasi panjang justru melelahkan dan menguras fokus. Karyawan baru diharapkan mampu menghafal hampir seluruh detail kurikulum pembelajaran korporat dalam waktu yang singkat.
Kenyataannya, memaksa karyawan untuk menghafal proses administratif yang kompleks di minggu pertama kerja sangat tidak efektif.. Sudah saatnya L&D dan praktisi HR mengubah fokus terhadap penghafalan menjadi fokus terhadap pemecahan masalah.
Di Monkey Melody, kami percaya bahwa dengan mengubah video onboarding yang panjang menjadi ekosistem video mikro yang mudah dicari, perusahaan dapat menciptakan Just-in-time learning yang bertindak sebagai dukungan kinerja harian karyawan.
Pendekatan tradisional terhadap onboarding sering kali memperlakukan pelatihan sebagai sebuah event-based training. Karyawan mengikuti sesi selama beberapa minggu dan menyelesaikan semua modul video, lalu dianggap sudah selesai. Padahal yang perlu dinilai adalah efektivitas karyawan dalam menerapkan yang telah dipelajari di lapangan.
Menurut konsep Ebbinghaus Forgetting Curve (Kurva Kelupaan Ebbinghaus) yang terkenal di dunia psikologi kognitif, manusia akan melupakan sekitar 70% hingga 80% informasi baru dalam waktu 24 jam jika tidak ada upaya pengulangan atau aplikasi langsung. Bayangkan seorang karyawan baru, diajarkan cara memasukkan data vendor ke dalam sistem ERP perusahaan yang rumit pada hari ke-3 onboarding. Namun, Budi baru ditugaskan untuk memasukkan data vendor pertamanya pada hari ke-25.

Karyawan tersebut mungkin sudah melupakan langkah-langkah spesifik yang dia tonton di video. Akhirnya banyak waktu yang dihabiskan dan produktivitas pun menurun.
Ketika pelatihan hanya diperlakukan sebagai acara satu kali di awal masa kerja, L&D secara tidak langsung mengabaikan Cognitive Load Theory (Teori Beban Kognitif). Kapasitas memori kerja manusia sangat terbatas. Membanjiri karyawan baru dengan terlalu banyak informasi teknis dalam waktu singkat tidak akan menghasilkan retensi pengetahuan; itu hanya akan menghasilkan kelelahan mental dan menurunkan efisiensi operasional dalam jangka panjang.
Untuk mengatasi masalah retensi pengetahuan ini, praktisi HR dan desainer instruksional harus memahami perbedaan yang sangat jelas antara Training dan Performance Support.
1. Training (Pelatihan)
Pelatihan sangat ideal untuk membangun pola pikir, membentuk budaya perusahaan, mengajarkan soft skills seperti kepemimpinan atau negosiasi, dan memberikan konteks “mengapa” (why) perusahaan melakukan sesuatu. Video onboarding yang menceritakan sejarah berdirinya perusahaan, nilai-nilai inti, visi-misi, atau prinsip etika kerja adalah materi yang tepat untuk Training. Karyawan perlu meresapi informasi ini agar merasa terhubung dengan identitas organisasi.
2. Performance Support (Dukungan Kinerja)
Di sisi lain, Performance Support System didesain khusus untuk menjawab pertanyaan bagaimana cara melakukan. Bentuknya bisa berupa alat bantu yang diakses karyawan tepat saat mereka sedang melakukan pekerjaan tersebut. Contohnya, “nagaimana cara memproses invoice spesifik ini di sistem SAP?”, “Bagaimana cara mengajukan cuti tahunan di portal HRIS baru?”, dan sebagainya.
Memaksa karyawan menonton video cara memproses invoice di minggu pertama saat mereka belum memiliki invoice untuk diproses adalah tindakan sia-sia. Untuk jenis pengetahuan prosedural dan teknis seperti ini, pendekatan yang dibutuhkan bukanlah pelatihan tradisional, melainkan performance support. Karyawan tidak perlu menghafal semua langkah, tapi hanya butuh panduan visual yang cepat dan mudah diakses.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.