GenAI Membantu atau Justru Menggantikan Desainer Video Pembelajaran?
Daftar Isi
Demokratisasi Teknologi GenAI
Coba rekan-rekan lihat media sosial. Video berkualitas tinggi bisa dibuat dengan mudah via tools seperti Runway dan Veo. Tanpa kamera ataupun keahlian editing yang mumpuni, berbagai jenis video termasuk video pembelajaran bisa dibuat dengan biaya rendah dan dalam waktu yang singkat.
Apakah ini berarti profesi content creator, atau video producer akan segera tergantikan? Apakah tim Learning & Development di perusahaan akan kehilangan peran mereka dalam produksi materi pelatihan?
Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan ledakan model GenAI yang bersifat open source dan mudah diakses. Model-model seperti HunyuanVideo dari Tencent, CogVideoX dari Tsinghua University, hingga Qwen dan berbagai model open source lainnya kini tersedia di platform seperti Hugging Face. Beberapa bahkan bisa dijalankan langsung dari browser tanpa perlu instalasi software yang rumit.
Berdasarkan survei dari BCG, sekitar 85% eksekutif tingkat C-suite berencana untuk meningkatkan investasi mereka dalam teknologi AI dan GenAI. Ini menunjukkan bahwa fokus adopsi GenAI terletak pada cara menggunakannya dengan efektif.
Bagi dunia corporate learning, implikasinya cukup signifikan. Tools yang dulunya memerlukan budget besar dan tim khusus, kini bisa diakses dengan biaya yang jauh lebih terjangkau. Video pembelajaran yang tadinya butuh berminggu-minggu untuk diproduksi, kini bisa dibuat dalam hitungan hari atau bahkan jam.
Kolaborasi Manusia dan AI dalam Workflow Produksi
Namun, kemudahan akses teknologi ini tidak lantas berarti manusia akan terpinggirkan. Justru sebaliknya, berbagai riset terbaru menunjukkan bahwa peran manusia semakin krusial di era GenAI. Tetap ada beberapa area krusial yang memerlukan human oversight, terutama untuk memastikan aspek seperti akurasi konten, menjaga konsistensi brand, memahami konteks spesifik perusahaan dan audience, serta mengarahkan creative direction dan storytelling yang efektif.
Lantas, bagaimana praktiknya di dunia nyata? Framework yang paling efektif adalah dengan membagi peran. AI menangani tugas-tugas yang repetitif dan teknis, sementara manusia fokus pada aspek strategis dan kreatif.
Dalam konteks produksi video pembelajaran, kolaborasinya bisa terlihat seperti ini. GenAI bisa digunakan untuk membuat draft visual awal, iterasi storyboard dengan cepat, atau bahkan menghasilkan animasi sederhana untuk konsep-konsep dasar. Ini menghemat waktu yang luar biasa banyak dalam tahap eksplorasi ide.
Sementara itu, manusia tetap memegang kendali penuh dalam hal-hal krusial seperti menulis script yang sesuai dengan tone perusahaan, memastikan akurasi materi terutama untuk topik-topik teknis yang kompleks, melakukan final editing untuk menjaga kualitas dan konsistensi, serta membuat keputusan kreatif yang selaras dengan tujuan pembelajaran.
Data dari Accenture menunjukkan bahwa perusahaan yang fokus pada kolaborasi human-AI mengalami pertumbuhan revenue 38% lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Ini membuktikan kolaborasi yang produktif antara manusia dan GenAI bisa menghasilkan dampak baik.
Ini juga bisa menjadi kesempatan besar bagi tim L&D untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan kualitas. Materi pelatihan bisa diproduksi lebih cepat dan disesuaikan dengan kebutuhan yang berubah dengan lebih responsif. Namun, elemen-elemen yang membuat video pembelajaran efektif seperti storytelling yang menarik dan relevan dengan audiens tetap memerlukan sentuhan manusia.
Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.
Share:
M. Rizky Fajar Ramadhan
Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.









