Mengapa Timing Visual dan Narasi Bisa Memengaruhi Retensi Belajar

Mengapa Timing Visual dan Narasi Bisa Memengaruhi Retensi Belajar

Daftar Isi

    Prinsip Kesinambungan Waktu

    Pernah tidak menonton sebuah video pelatihan lalu merasa ada yang janggal? Misalnya, narator sudah mulai memberikan paparan tentang suatu diagram, tetapi diagramnya baru muncul beberapa detik kemudian. Atau sebaliknya, visualnya justru muncul lebih dulu sedangkan penjelasannya baru terdengar belakangan.

    Dalam dunia pembelajaran berbasis video, detail semacam ini sangat krusial. Richard E. Mayer, seorang pakar dalam bidang multimedia learning, memperkenalkan prinsip Temporal Contiguity atau yang kita kenal sebagai Prinsip Kesinambungan Waktu. Prinsip ini menekankan bahwa visual dan verbal yang berkaitan sebaiknya muncul bersamaan atau setidaknya dalam waktu yang berdekatan. Penyelarasan waktu memudahkan otak menghubungkan informasi dan menghindari kebingungan.

    Ketika audio dan visual tidak selaras, otak peserta ajar harus bekerja dua kali. Mereka harus mengingat informasi dari satu elemen, lalu mencocokkannya dengan elemen lain yang muncul beberapa detik kemudian. Ini ternyata melelahkan dan tidak efisien, apalagi jika materinya bersifat teknis atau kompleks. Sebaliknya, saat narasi dan visual hadir beriringan, otak lebih mudah menghubungkan keduanya. Hasilnya, Informasi pun menjadi lebih cepat dipahami.

    Peran Storyboard dalam Menjaga Sinkronisasi antar Audio dan Visual

    Lalu bagaimana memastikan sinkronisasi ini? Di sinilah peran storyboard menjadi vital. Dalam video pembelajaran berbasis animasi, tentunya desain grafis dan animasinya perlu dirancang supaya bisa mengomunikasikan materi dengan baik. Untuk mengoptimalkan hal itu, Monkey Melody memiliki tim storyboarder yang bertugas untuk mengonversi script menjadi storyboard.

    Storyboard adalah rangkaian gambar / sketsa yang berfungsi untuk menggambarkan alur visual dan narasi video yang dijadikan sebagai panduan untuk desainer dan animator. Elemen-elemennya mencakup urutan adegan, peletakan aset visual, pemilihan / sketsa aset visual, arahan animasi, dan sejenisnya.

    Utamanya, storyboard berisi sketsa alur adegan yang bertujuan untuk memandu desainer. Selain itu, storyboard juga mengatur ritme kemunculan elemen yang berguna bagi animator. Misalnya, kapan teks perlu muncul di layar, bagaimana aset grafis bergerak mengikuti narasi, hingga transisi antar-scene. Proses ini dilakukan sejak awal perencanaan agar animator memiliki panduan yang jelas.

    Secara permukaan, proses sinkronisasi audio dan visual ini mungkin terkesan tidak terlalu penting. Padahal, ini adalah bagian dari strategi komunikasi visual yang sangat menentukan hasil akhir. Kesalahan timing yang terlihat sepele saja bisa mengubah cara peserta ajar memahami sebuah konsep.

    Itulah mengapa kolaborasi erat dengan Subject Matter Expert (SME) juga penting. Narasi yang tepat, dipadukan dengan visual yang muncul di waktu yang pas, menciptakan alur pembelajaran yang natural sekaligus efektif.

    Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

    Share:

    M. Rizky Fajar Ramadhan

    Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.

    Menyaring Materi Ajar untuk Video Pembelajaran Korporat

    Menyaring Materi Ajar untuk Video Pembelajaran Korporat

    Daftar Isi

      Mengapa Kita Perlu Menghindari Memberikan Terlalu Banyak Informasi?

      Pernahkah Anda menonton video pelatihan perusahaan yang terasa seperti slide presentasi pada umumnya? Satu layar penuh dipenuhi dengan banyak teks penjelasan yang diambil langsung dari modul atau presentasi. Lalu dari segi visual, juga mungkin tidak begitu banyak. Video yang padat dengan teks seperti ini justru membuat peserta ajar cepat kehilangan fokus.

      Ketika kita berkemas untuk sebuah perjalanan, tentunya kita hanya akan membawa pakaian secukupnya, kan? Hal yang sama berlaku dalam pembuatan video pembelajaran. Tidak semua detail harus dimasukkan ke dalam satu video. Kita perlu memfilter elemen mana saja yang esensial untuk ditampilkan baik dalam teks maupun visual.

      Berdasarkan Prinsip Redundansi dan Prinsip Modalitas yang dikembangkan oleh Richard E. Mayer, video yang terlalu padat justru akan memberikan beban kognitif yang berlebihan kepada peserta ajar.

      Menurut Prinsip Redundansi, informasi yang berlebihan atau diulang-ulang dalam bentuk teks dan audio akan berdampak pada proses pembelajaran yang kurang efektif. Sedangkan menurut Prinsip Modalitas, informasi visual yang disandingkan dengan narasi verbal akan lebih efektif dibandingkan informasi yang ditampilkan menggunakan kombinasi visual dan teks. Ini berkaitan dengan jalur pemrosesan informasi di dalam otak. Dengan membagi informasi menjadi visual dan audio, beban kognitifnya menjadi lebih rendah.

      Lantas, bagaimana caranya menyajikan informasi dari materi yang padat tapi tetap terasa ringan?

      Di Monkey Melody, kami mempercayakan tugas ini kepada tim penulis naskah dan storyboarder. Tim storyboarder, khususnya, berperan penting dalam menyusun pengalaman visual pembelajaran. Tugas mereka adalah untuk mentransformasikan materi ajar menjadi alur visual yang terstruktur, komunikatif, dan tentunya tidak berlebihan.

      Pentingnya Mempelajari dan Menyaring Bahan Materi Ajar

      Bagaimana sih cara menyaring materi dari modul atau bahan presentasi? Tentunya, pertama kita perlu memahami objektif yang ingin dicapai klien. Terkadang, ada pihak yang memiliki prioritas untuk mengonversi semua modul pembelajaran menjadi video, sehingga videonya cukup padat  dengan teks. Namun, bila memungkinkan, sebaiknya kita mengikuti prinsip yang diusung Richard E. Mayer.

      Pertama, tim penulis naskah yang perlu membaca dan mempelajari setiap modul. Komprehensi yang menyeluruh membantu tim untuk mencari parafrase yang tepat tanpa mengurangi akurasi informasinya. Selanjutnya, tim storyboarder kami perlu memahami konteks materi dengan baik, membaca naskah, menelaah bahan ajar dari klien, dan melakukan riset tambahan jika diperlukan. Beberapa materi, terutama yang bersifat teknis atau prosedural, bisa sangat menantang untuk divisualisasikan secara efektif tanpa kehilangan esensinya.

      Di sinilah kepekaan terhadap prinsip Redundansi menjadi sangat penting. Kami menyadari bahwa terlalu banyak teks di layar, apalagi jika sama persis dengan narasi suara, justru akan mengurangi efektivitas penyampaian informasi. Sebaliknya, visual yang tepat, dipadukan dengan narasi yang terstruktur, justru bisa memperkuat retensi memori dan pemahaman peserta ajar.

      Menyederhanakan bukan berarti mengurangi kualitas. Justru sebaliknya, di balik video pembelajaran yang terlihat ringan dan enak ditonton, ada proses panjang untuk memperkuat efektivitas videonya baik dari segi estetika maupun akurasi. Dengan memahami prinsip Redundansi dan Modalitas serta melibatkan tim storyboarder sejak awal, kita dapat menciptakan konten pembelajaran yang lebih strategis dan berdampak bagi peserta ajar.

      Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

      Share:

      M. Rizky Fajar Ramadhan

      Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.

      Meningkatkan Retensi via Video Pembelajaran Interaktif

      Meningkatkan Retensi via Video Pembelajaran Interaktif

      Daftar Isi

        Video Konvensional VS Video Interaktif

        Materi pembelajaran berbasis video sudah sangat umum dan dapat dijumpai di berbagai platform yang fokus utamanya bukan edukasi seperti TikTok, YouTube, dan sebagainya. Seiring waktu, standar video pembelajaran pun semakin meningkat. Motion Graphic misalnya, menjadi elemen wajib yang perlu dihadirkan supaya perhatian penonton bisa terjaga.

        Namun, sekeren apa pun tampilannya, format video mendorong proses pembelajaran yang pasif. Jika penonton tidak menerapkan proses berpikir kritis selama menonton, hasilnya mungkin tidak akan meningkat secara signifikan dibandingkan dengan aktivitas belajar di dalam kelas.

        Video konvensional memang memiliki kelebihan. Formatnya sederhana, biaya produksinya relatif lebih rendah, dan tentunya seperti yang kita alami selama pandemi, dapat diakses kapan saja. Bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan untuk mengonversi semua modul menjadi video, format ini masih relevan. Namun, kelemahan utamanya adalah rendahnya tingkat keterlibatan.

        Sebaliknya, video interaktif dirancang untuk membuat peserta ajar aktif terlibat. Saat menonton, mereka tidak hanya menyerap informasi, tetapi juga diajak untuk mengklik, memilih, menjawab, atau bahkan menentukan alur pembelajaran sendiri. Contoh sederhananya, kuis singkat yang muncul di tengah video dapat mendorong peserta ajar untuk mengingat kembali topik yang dibahas sebelumnya.

        Selain itu ada format interaktivitas lain yang dapat dicoba seperti diagram interaktif, skenario bercabang, dan sebagainya. Kelebihannya yaitu dapat meningkatkan engagement dan menjaga konsentrasi supaya bisa bertahan lebih lama sehingga harapannya dapat meningkatkan pemahaman. Tentu saja, produksi video interaktif membutuhkan perencanaan dan usaha ekstra.

        Penerapan Nyata Video Interaktif

        Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Computer Science Advancements, ditemukan bahwa dari 300 mahasiswa, kelompok yang belajar melalui video interaktif menunjukkan tingkat retensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan video konvensional. Selisih completion rate kedua kelompok sebesar 14%. Sedangkan selisih rata-rata durasi menontonnya sebesar 13 menit.

        Tidak hanya itu, interaksi dengan konten meningkat drastis, dari rata-rata 3 interaksi per video menjadi 27 interaksi. Dampaknya pun terlihat. Skor hasil belajar kelompok interaktif 25 persen lebih tinggi dibanding kelompok konvensional.

        Menariknya, peserta dalam studi tersebut juga melaporkan pengalaman yang lebih imersif. Mereka merasa seperti sedang “berdialog” dengan materi. Kuis dalam video memberi umpan balik instan, sementara skenario bercabang menstimulasi rasa ingin tahu. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori kognitif multimedia yang menyebutkan bahwa orang belajar lebih baik ketika aktif memproses informasi melalui kombinasi teks, visual, dan interaksi.

        Temuan ini juga didukung oleh pengalaman Monkey Melody dalam memproduksi video pembelajaran interaktif. Monkey Melody telah membantu beberapa perusahaan menyusun video pembelajaran interaktif untuk kebutuhan pelatihan berbasis simulasi. Salah satu contohnya adalah pelatihan komunikasi Bahasa Inggris untuk perawat yang harus belajar berkomunikasi dengan kolega dan pasien dalam Bahasa Inggris.

        Dalam proyek ini, video interaktif didesain menyerupai dialog simulasi, lengkap dengan segmen yang memicu peserta ajar untk mengingat kembali kosakata yang telah dipelajari. Tujuannya supaya peserta ajar memiiki gambaran seperti apa percakapan nyata di berbagai situasi.

        Kami menggunakan tools seperti H5P dan memadukan desain UI yang sederhana namun responsif agar pengalaman belajar tetap nyaman diakses dari mana saja.

        Selain itu, Monkey Melody juga pernah dengan KPK dalam penyusunan multimedia pembelajaran terkait materi Kode Etik dan Kode Perilaku. Dalam proses penyusunan konsep, kami mencari format yang memungkinkan peserta ajar untuk tidak hanya belajar sambil menikmati visual yang disajikan, tetapi juga teresap ke dalam sebuah cerita. Akhirnya kami memutuskan untuk menerapkan gaya cerita bercabang ala visual novel. Peserta ajar akan dihadapkan pada pilihan penting di titik-titik tertentu. Keputusan mereka akan memengaruhi jalan cerita dan ending sehingga pengalaman belajarnya terasa imersif.

        Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

        Share:

        M. Rizky Fajar Ramadhan

        Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.

        3 Format Interaktivitas untuk Mengemas Materi Menjadi Lebih Menarik

        3 Format Interaktivitas untuk Mengemas Materi Menjadi Lebih Menarik

        Daftar Isi

          Video Interaktif untuk Meningkatkan Keterlibatan

          Salah satu media yang mendukung proses pelatihan dan pembelajaran mandiri di dalam perusahaan adalah video pembelajaran, khususnya yang menerapkan visual dan animasi yang menarik. Selain tampilan yang lebih menarik perhatian, karyawan dapat mengakses video pembelajaran kapan saja tanpa harus menyesuaikan jadwal yang sangat spesifik. Meskipun begitu, penggunaan video saja tidak selalu mampu menjawab kebutuhan belajar di berbagai konteks.

          Visual dan animasi dalam video memang membantu menjelaskan topik secara jelas. Namun, tanpa partisipasi aktif, pembelajaran cenderung berjalan satu arah. Akibatnya, sebagian peserta ajar mungkin hanya menjadi penonton pasif dan kurang menyerap informasi secara mendalam.

          Untuk mengatasi keterbatasan itu, diperlukan pengalaman belajar yang memberi ruang interaksi yang mengajak peserta ajar untuk terlibat. Harapannya, perhatian dapat lebih terjaga dan pemahaman materi dapat meningkat. Menurut survei global oleh Kaltura (2024), 55% profesional pendidikan secara konsisten menggunakan kuis interaktif dalam pembelajaran digital. Dan ternyata, tren ini juga mulai merambah ke dunia korporat.

          Tapi apakah interaktivitas harus berbentuk kuis? Ternyata ada banyak opsi lain yang bisa diterapkan. Pada akhirnya, format interaktivitas perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Misalnya, studi kasus dapat dikemas sebagai cerita bercabang yang mengandung titik-titik pilihan. Pada bagian tersebut, peserta didorong untuk berpikir kritis dan memberikan keputusan yang sesuai.

          Penggunaan teknologi interaktif dalam video pembelajaran memiliki manfaat yang besar, khususnya dalam meningkatkan retensi informasi, keterlibatan, dan pemahaman karyawan terhadap materi yang disampaikan. Hal ini penting karena semakin tinggi keterlibatan karyawan dalam pembelajaran, semakin besar kemungkinan mereka untuk memahami dan mengingat materi.

          Untuk mendukung interaktivitas, ada berbagai tool yang dapat dipakai. Salah satunya yang paling sederhana adalah H5P. H5P adalah sebuah platform open-source yang memungkinkan pengguna untuk membuat, berbagi, dan menggunakan konten interaktif secara online. Dengan H5P, konten interaktif seperti kuis, presentasi, video interaktif, dan game edukatif dapat dibuat meskipun ada keterbatasan dalam kemampuan programming.

          Contoh Format untuk Mengemas Materi Pembelajaran

          H5P menawarkan banyak sekali format untuk berbagai kebutuhan. Format kuis sederhana seperti drag and drop dan in the blank dapat digunakan untuk menguji komprehensi peserta ajar. Titik peletakkannya tidak selalu harus di belakang. Dengan H5P, kita dapat menyisipkan kuis di berbagai titik di dalam video. Selama perencanaannya tepat, kita dapat menyajikan pengalaman belajar interaktif yang cukup menarik meskipun hanya dengan kuis-kuis sederhana.

          Namun, jika rekan-rekan ingin format yang lebih unik, H5P juga menawarkan berbagai opsi. Di antara berbagai jenis konten interaktif yang disediakan oleh H5P, ada tiga tipe unik yang dapat mengemas materi pembelajaran dalam bentuk yang tidak membosankan yaitu Interactive Book, Timeline, dan Branching Scenario.

          1. Interactive Book

          Bayangkan sebuah buku digital yang tidak hanya berisi teks, tetapi juga menyatukan berbagai media pembelajaran seperti video, kuis, hingga presentasi. Itulah fungsi dari Interactive Book. Dengan format ini, materi pelatihan dalam jumlah besar bisa disusun secara rapi dalam modul yang terbagi menjadi beberapa halaman. Peserta ajar pun dapat mempelajarinya secara perlahan, tanpa merasa kewalahan. Keunggulannya, semua sumber belajar terkumpul di satu tempat, sementara fitur interaktifnya membuat pengalaman belajar lebih menarik dan mudah diingat.

          1. Timeline

          Ketika sebuah topik membutuhkan penjelasan berdasarkan urutan peristiwa, Timeline menjadi pilihan tepat. Konten ini menghadirkan lini masa interaktif yang dapat dimanfaatkan untuk menyajikan sejarah, proses, atau alur kejadian secara runtut. Hasilnya, peserta ajar lebih mudah memahami keterkaitan antara waktu dan peristiwa, sekaligus melihat gambaran besar dari materi yang sedang dipelajari.

          1. Branching Scenario

          Untuk melatih keterampilan mengambil keputusan, Branching Scenario menawarkan pendekatan yang sangat efektif. Peserta ajar dihadapkan pada cerita dengan berbagai pilihan, dan setiap keputusan yang mereka buat akan mengubah jalannya alur serta hasil akhirnya. Konten jenis ini dapat berupa video maupun elemen interaktif lain. Dalam praktiknya di dunia korporat, Branching Scenario dapat digunakan untuk simulasi manajemen risiko, latihan menghadapi dilema, atau pelatihan perilaku yang menuntut pemahaman mendalam terhadap situasi nyata di bisnis.

          Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

          Share:

          M. Rizky Fajar Ramadhan

          Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.

          Highlight Event Monki Nongki: Pemanfaatan AI (LLM) untuk Pre-Production Multimedia Pembelajaran – Volume 1

          Highlight Event Monki Nongki: Pemanfaatan AI (LLM) untuk Pre-Production Multimedia Pembelajaran – Volume 1

          Daftar Isi

            Peran LLM dalam Penyusunan Naskah dan Storyboard

            Dalam video pembelajaran, grafis dan animasi memainkan peran yang esensial. Materi yang sebelumnya berbentuk teks, ketika dikonversi menjadi aset visual, dapat memudahkan peserta ajar dalam mencerna materi sulit. Tentunya, estetika hanyalah satu aspek. Di sisi lain, hasil konversi tadi perlu mampu menyampaikan informasi yang akurat. Visual yang apik saja tidak cukup. Untuk menjaga akurasi, perlu ada tim dengan tingkat komprehensi yang baik dan mampu mengolah materi menjadi naskah dan perencanaan visual yang sesuai.

            Artinya, perlu ada proses mempelajari materi terlebih dahulu. Di Monkey Melody, sebelum masuk tahap desain dan animasi, di tahap pembuatan naskah dan storyboard, ada proses analisis materi yang mendalam. Tim storyboarder membedah bahan ajar agar setiap elemen visual yang muncul sesuai dengan konteks. Apabila yang dihadapi berupa materi kompleks di bidang yang sangat spesifik, bagaimana? Di sinilah peran Large Language Model (LLM). Kehadiran Large Language Model (LLM) membuka peluang baru bagi tim kreatif untuk memperoleh pemahaman secara lebih cepat meskipun materinya kompleks.

            Namun, kenyataannya, masih banyak orang yang mungkin belum sepenuhnya mendalami kapabilitas LLM ataupun berbagai variasinya. Karena itu, di awal Agustus, Monkey Melody mengadakan sebuah online event untuk mengajak Bapak / Ibu dari berbagai instansi untuk ikut dan belajar tentang LLM dan lebih khususnya, NotebookLM.

            Di awal, Mas Septian sebagai pendiri Monkey Melody, membuka dengan Memperkenalkan Monkey Melody serta framework yang diterapkan beserta studi kasusnya. Selanjutnya, mas Fajar lanjut memberikan paparan singkat terkait LLM dan cara kerjanya. Dengan memahami konsep seperti token dan prompting, harapannya peserta ajar memahami batasan dan potensi LLM dalam berbagai konteks.

            Pada sesi kali ini, kami memutuskan untuk tidak membahas LLM yang sudah populer seperti ChatGPT. Berhubung akurasi dalam mengonversi materi menjadi fokus utamanya, kami rasa NotebookLM adalah pilihan yang tepat.

            Memberikan Demonstrasi Cara Memanfaatkan NotebookLM

            NotebookLM sendiri adalah salah satu inovasi dari Google yang dirancang khusus untuk membantu pengguna memahami materi dari berbagai sumber. Berbeda dengan LLM populer lain yang fungsinya lebih umum, NotebookLM menekankan pada integrasi dokumen sebagai basis pengetahuan. Artinya, NotebookLM tidak menjawab pertanyaan seperti ChatGPT. NotebookLM akan berfokus pada bahan yang sudah diunggah penggunanya. Dengan begitu, risiko jawaban yang “mengarang” atau tidak relevan bisa lebih diminimalisir.

            Dengan NotebookLM, kita bisa mengunggah modul, artikel, buku, dan bahkan memberikan link artikel untuk kemudian diekstrak menjadi poin-poin kunci yang lebih mudah dipahami. Bahkan, NotebookLM dapat digunakan untuk membuat rangkuman, menjawab pertanyaan spesifik dari teks, hingga membantu menyusun kerangka visual yang sesuai dengan konteks materi. Selanjutnya Mas Fajar menekankan bahwa sebaiknya kita tidak mengunggah materi yang bersifat internal atau spesifik.

            Selanjutnya Mas Fajar mencontohkan bagaimana cara menggunakan fitur-fitur NotebookLM mulai dari mengunggah hingga menghasilkan rangkuman audio. Dengan NotebookLM, proses membedah isi dokumen menjadi lebih efisien. Kita tidak perlu membaca ratusan halaman secara manual sebelum menyusun storyboard, karena NotebookLM bisa menyajikan ringkasan dan highlight yang langsung mengarah pada inti informasi. Tentunya, kita masih perlu memeriksa kembali sumbernya.

            Melalui demonstrasi ini, kami harap peserta memahami bahwa LLM populer seperti ChatGPT pun ada keterbatasannya, dan ada tool lain yang bisa lebih efektif untuk keperluan tertentu.

            Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

            Share:

            M. Rizky Fajar Ramadhan

            Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.

            Menyusun Cerita untuk Video Pembelajaran Simulasi

            Menyusun Cerita untuk Video Pembelajaran Simulasi

            Daftar Isi

              Fungsi Cerita dalam Pembelajaran

              Pendekatan pelatihan online di perusahaan biasanya berfokus pada aktivasi LMS, penyusunan video pembelajaran, pengadaan webinar, dan sejenisnya. Video pembelajaran memang sudah terbukti cukup efektif untuk pembelajaran secara asynchronous ketimbang menggunakan modul tekstual saja. Namun, video yang sudah diproduksi dengan baik tidak menjamin karyawan dapat sepenuhnya terlibat karena sifat video yang mendorong proses pembelajaran yang pasif. Nah, di sinilah simulasi masuk sebagai opsi alternatif.

              Menurut beberapa studi, penggunaan teknologi simulatif seperti VR dan AR bisa meningkatkan retensi pengetahuan hingga 30% lebih tinggi dibanding metode digital konvensional. Tapi apakah simulasi tidak harus berarti memerlukan VR atau AR? Ternyata, simulasi bisa dihadirkan dalam bentuk sederhana, misalnya dengan video interaktif yang menyajikan cerita dan pilihan-pilihan.

              Coba bayangkan Anda sedang menyusun pelatihan etika bisnis. Jika hanya disajikan lewat paparan formal, kemungkinan besar karyawan akan cepat kehilangan fokus. Namun, begitu materi dikemas menjadi sebuah cerita dengan karakter, konflik, dan pilihan tindakan, karyawan bisa merasa langsung terlibat. Ini menjadi sangat efektif untuk materi-materi yang menyediakan berbagai studi kasus.

              Di titik inilah cerita menjadi esensial. Kehadiran cerita mengajak peserta ajar untuk terlibat secara emosional dan juga dapat mendorong peserta ajar untuk berpikir kritis. Saat mereka dihadapkan pada pilihan-pilihan tertentu, peserta didorong untuk mengambil keputusan. Dalam proses pengambilan keputusan, otomatis mereka perlu mengingat materi dan berpikir kritis. Hasil dari pilihan itu akan memengaruhi jalannya cerita serta ending yang mereka dapatkan.

              Selama penyusunan cerita, kita perlu merancang pilihan apa saja yang relevan dengan objektif pembelajaran. Selain keseruan bisa membuka jalan cerita dan ending yang berbeda, peserta ajar juga perlu memperoleh pesan yang ingin disampaikan dari hasil pilihan-pilihan tersebut.

              Dari Modul Formal ke Video Simulasi Berbasis Visual Novel

              Monkey Melody pernah bekerja sama dengan KPK dalam menyusun video pembelajaran tentang Kode Etik dan Kode Perilaku. Setelah mendiskusikan objektif dan kebutuhan klien, tim Monkey Melody memilih format visual novel sebagai basis gaya rangkaian video materi tersebut.

              Bisa ditebak dari namanya, Visual Novel adalah sejenis game yang sangat berfokus pada narasi. Uniknya, Visual Novel mengandung unsur interaktif yang dapat memengaruhi akhir cerita. Visual Novel bisa berbeda-beda tapi secara umum, pemain dapat melihat sosok karakter dengan kotak teks yang berisi dialog ataupun narasi.

              Peserta ajar mengikuti cerita melalui dialog antar dua tokoh yang kami bangun berdasarkan data-data yang kami terima seperti target audiens. Di segmen tertentu, peserta ajar diberi kesempatan untuk memilih jalan cerita. Setiap keputusan membuka konsekuensi berbeda, dan peserta ajar bisa merasakan langsung dampak dari pilihan mereka.

              Dalam penyusunan cerita, tim kami mengacu pada kasus-kasus nyata yang disediakan oleh KPK. Kasus-kasus tersebut kemudian dipadukan dengan karakter dan alur yang telah dirancang sejak awal, sehingga peserta ajar dapat merasa lebih dekat dengan tokoh utama. Walau cerita bercabang hanya muncul di satu modul, tujuannya agar peserta lebih mudah membayangkan berbagai dilema yang mungkin terjadi beserta konsekuensinya.

              Sepanjang modul, peserta diminta memilih opsi tertentu untuk melanjutkan jalannya cerita. Layaknya sebuah visual novel, setiap pilihan akan membawa mereka ke jalur yang berbeda hingga berujung pada akhir cerita yang bervariasi, tergantung keputusan sebelumnya.

              Konsep bercabang ini diperkuat dengan visual serta pengisi suara yang selaras, menciptakan pengalaman belajar yang lebih berkesan. Dengan begitu, pesan dan pelajaran yang terkandung diharapkan lebih mudah diingat sekaligus diterapkan dalam konteks nyata.

              Hasilnya? Materi yang tadinya berpotensi kaku berubah menjadi pengalaman yang lebih personal. Peserta merasa terhubung dengan karakter, lebih mudah memahami dilema etis, dan yang paling penting, mereka lebih mengingat pesan utama yang disampaikan.

              simulasi berbasis cerita ini bisa memberikan warna baru dalam proses pembelajaran asynchronous. Selain itu, simulasi ini adalah strategi yang dapat membuat karyawan lebih aktif, terhubung, dan siap menghadapi realitas kerja. Dengan pendekatan ini, harapannya kita membangun pengalaman belajar yang lebih hidup dan bermakna.

              Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

              Share:

              M. Rizky Fajar Ramadhan

              Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.

              Integrasi Prinsip Personalisasi dalam Multimedia Interaktif

              Integrasi Prinsip Personalisasi dalam Multimedia Interaktif

              Daftar Isi

                Pentingnya Belajar Serasa Diajak Mengobrol

                Pernah tidak menonton video pembelajaran yang bahasanya dan gaya penyampaiannya baku sekali. Biasanya kuliah atau sesi edukasi formal sejenis cenderung dibawakan dengan cara seperti itu. Tidak jarang kita dengar atau lihat beberapa orang dilanda kantuk dalam sesi seperti itu. Atau mungkin Anda merasakannya sendiri.

                Kenyataannya, kini ada banyak content creator di bidang edukasi yang berhasil membuat video edukasi yang menarik. Jelas, visual memiliki peran yang penting. Namun, bagaimana dengan penjelasan lisannya? Ternyata, banyak video pembelajaran yang penyampaiannya sangat relevan dan terasa akrab, padahal mungkin materinya juga bersifat teknis atau kompleks. Bedanya di mana? Ada di gaya penyampaian.

                Seperti halnya mengobrol dengan teman, gaya penyampaian yang lebih komunikatif dan mengena kepada audiens akan lebih efektif. Ini karena otak manusia lebih terbiasa menyerap informasi lewat komunikasi yang terasa seperti dari manusia ke manusia. Hal ini ditekankan oleh Richard E. Mayer dalam salah satu prinsipnya, yaitu Prinsip Personalisasi.

                Penerapan Prinsip Personalisasi dalam Multimedia Interaktif

                Dalam prinsip personalisasi, Mayer menekankan bahwa penyampaian dengan gaya percakapan akan jauh lebih efektif. Gaya percakapan di sini adalaha kebalikan dari gaya bahasa yang formal dan kaku seperti buku teks. Kenapa ini penting? Karena secara alami, otak manusia lebih merespons komunikasi antarindividu. Pemilihan kata dan nada bicara yang lebih membumi dan terasa seperti percakapan membuat penonton merasa diajak mengobrol.

                Lalu bagaimana penerapannya di dalam multimedia interaktif? Salah satu keunggulan utama dari pembelajaran interaktif adalah kemampuan untuk meningkatkan engagement alias keterlibatan peserta ajar. Keaktifan partisipasi cenderung membantu mereka lebih memahami dan mengingat materi yang disampaikan.

                Elemen Interaktivitas tentu mengandung beragam hal seperti kuis, opsi dalam cerita bercabang, peta permainan, dan sebagainya. Namun, dalam rangkaian video pembelajaran, elemen sosok yang menyampaikan pembelajarannya sendiri tetap ada. Karena itu, script yang disusun perlu mengintegrasikan prinsip personalisasi ke dalam titik-titik yang mengandung unsur interaktif.

                Misalnya, dalam menerapkan elemen interaktif yang asyik, salah satu yang pernah dilakukan Monkey Melody adalah menyisipkan kuis di titik-titik tertentu untuk menarik perhatian peserta ajar. Momen ini juga berfungsi untuk memicu ingatan mereka terhadap materi yang telah dipelajari sebelumnya. Gaya pembawaan yang mengandung nada mengajak bisa lebih efektif di bagian seperti ini.

                Tentu, prinsip personalisasi ini memiliki banyak pendekatan. Selama sesuai dengan objektif dan tetap berpatokan pada gaya bahasa yang tidak kaku, kita bisa bebas berkreasi.

                Ingat, perlu ditekankan bahwa gaya bahasa personal bukan berarti asal santai. gaya penyampaian yang digunakan talent juga perlu disesuaikan dengan karakter audiens: apakah mereka karyawan baru? Profesional berpengalaman? Tim lapangan atau manajer senior?

                Karena itulah, peran tim penulis script sangat krusial. Untuk menghasilkan penyampaian yang tetap terdengar profesional, tapi tetap terasa hangat dan mudah dicerna butuh proses yang teknis seperti pemilihan diksi, penyusunan struktur kalimat, penentuan nada, dan sebagainya.

                Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

                Share:

                M. Rizky Fajar Ramadhan

                Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.

                Mongki Nongki 6 – Pemanfaatan AI (LLM) Untuk Pre-Production Multimedia Pembelajaran Volume 1

                Mongki Nongki #6

                Detail Acara

                Dalam produksi multimedia pembelajaran, ada fase pengolahan materi menjadi script. Cara mengolahnya bagaimana? Pertama-tama, tentunya kita perlu memahami materinya dulu. Tapi kalau materinya sangat kompleks, bagaimana?

                Sekarang, dengan kehadiran berbagai platform Generative AI, proses komprehensi dan riset menjadi lebih mudah. Tapi apa dijamin bisa akurat? Tenang… Dalam sesi Mongki Nongki kali ini, Mas Septian dan Mas Fajar akan mengajak rekan-rekan untuk belajar langsung cara memanfaatkan salah satu alat berbasis AI, yaitu NotebookLM, dengan tepat untuk riset yang akurat. 

                Ayo bergabung bersama kami pada:

                • – Sabtu, 9 Agustus 2025
                • – 10.00 – 12.00 WIB
                • – Online via Zoom

                Daftar sekarang melalui: s.id/mongkinongki6

                Dalam event Monki Nongki kali ini, kita akan membahas tentang:

                1. Framework Monkey Melody dalam mengembangkan Multimedia Learning.

                2. Pemanfaatan Notebooklm untuk mempercepat proses riset materi atau konten ajar untuk menghasilkan video atau multimedia pembelajaran yang optimal.

                3. Live Demo Notebooklm.

                Pentingnya Menyiapkan SDM di Era Generative AI

                Pentingnya Menyiapkan SDM di Era Generative AI

                Daftar Isi

                  Skill Baru untuk Menghadapi Era Baru

                  Microsoft menemukan bahwa 82% pemimpin global percaya karyawan mereka membutuhkan skill baru untuk siap menghadapi era AI. Artinya, sedang terjadi sebuah perubahan dan tanggung jawab untuk menyiapkan SDM yang memadai pun makin besar.

                  2024 adalah tahun di mana AI mulai jadi bagian dari keseharian kerja. Menurut McKinsey, jumlah organisasi yang menggunakan AI secara rutin meningkat dua kali lipat hanya dalam 10 bulan terakhir. Laporan ini juga menyebut bahwa Large Language Models (LLM) kini tidak hanya menangani teks, tapi sudah bisa menghasilkan video, audio, bahkan visual untuk kebutuhan bisnis. Artinya, potensi GenAI di tempat kerja terus melebar.

                  Diperkirakan bahwa 68% dari keterampilan kerja akan berubah pada tahun 2030 karena percepatan teknologi GenAI. Dan perubahan ini sudah mulai sekarang.

                  Dalam laporan Coursera 2024, terlihat lonjakan signifikan dalam minat belajar AI. Misalnya, pendaftaran kursus terkait Generative AI meningkat 1.060% secara global hanya dalam satu tahun terakhir. Angka ini memperlihatkan urgensi yang nyata terkait perlunya mengejar ketertinggalan. Pertanyaannya apakah organisasi sudah memberi ruang dan arah yang jelas untuk mengejar ketertinggalan itu?

                  Mempelajari AI dari Level Dasar Hingga Level Kepemimpinan

                  Beberapa perusahaan global sudah mulai menyusun learning path berbasis AI. Misalnya, Udemy Business mengembangkan jalur pelatihan khusus agar semua level karyawan bisa siap menghadapi integrasi GenAI, seperti:

                  1. Introduction to GenAI for All Employees – pengenalan AI untuk seluruh karyawan tanpa jargon teknis.
                  2. Next-Level GenAI Tech – mempelajari teknik lanjutan seperti prompt engineering.
                  3. GenAI Skills to Drive Productivity – fokus pada cara AI bisa meningkatkan produktivitas tim.
                  4. GenAI Skills for Leaders – bekal bagi pemimpin agar bisa memandu timnya bertransformasi.

                  Membekali karyawan dengan skill AI tidak harus selalu dimulai dari pelatihan teknis yang rumit. Yang penting justru tentnu dengan memberi pemahaman dasar mengapa AI penting untuk pekerjaan mereka. Setelah itu, mereka perlu disediakan akses pada konten pembelajaran yang relevan. Akhirnya tentu mereka perlu bisa mengintegrasikan pembelajaran ini ke dalam budaya kerja.

                  Tim non teknis seperti procurement, HR, dan keuangan pun bisa mulai belajar prompt sederhana untuk mempercepat kerja mereka. GenAI bisa dimanfaatkan oleh beragam bidang, termasuk semua orang yang bekerja dengan data, informasi, dan komunikasi. Jadi, GenAI memang bisa dimanfaatkan oleh hampir semua fungsi kerja.

                  Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

                  Share:

                  M. Rizky Fajar Ramadhan

                  Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.

                  Video Eksperimen Lebih Aktif dengan Elemen Interaktif

                  Video Eksperimen Lebih Aktif dengan Elemen Interaktif

                  Daftar Isi

                    Video Praktik atau Eksperimen Cenderung Pasif

                    Membaca buku atau menonton video mungkin sudah cukup efektif ketika kita sedang mempelajari materi yang bersifat teoritis. Tapi bagaimana dengan kemampuan yang butuh lebih banyak praktik, seperti video eksperimen di sekolah misalnya? Apakah video saja sudah cukup?

                    Pada dasarnya, video eksperimen memang bersifat demonstratif. Alias tujuannya untuk menunjukkan proses dan hasil. Namun, tanpa ada keterlibatan langsung, peserta ajar cenderung hanya menonton secara pasif. Transfer pengetahuan hanya berjalan satu ara dan potensi retensi materi pun bisa menurun.

                    Menurut survei Kaltura di tahun 2024, elemen interaktif seperti kuis dan chat menjadi alat yang paling sering digunakan dalam pembelajaran digital karena terbukti meningkatkan keterlibatan peserta.

                    Penggunaan teknologi interaktif dalam video learning memiliki manfaat yang besar, khususnya dalam meningkatkan retensi informasi, keterlibatan, dan pemahaman karyawan terhadap materi yang disampaikan. Hal ini penting karena semakin tinggi keterlibatan karyawan dalam pembelajaran, semakin besar kemungkinan mereka untuk memahami dan mengingat materi.

                    Jadi, mengapa tidak kita terapkan pada video eksperimen juga? Salah satu pendekatan yang pernah diterapkan oleh Monkey Melody dalam project video pembelajaran bersama Penerbit Erlangga adalah menyisipkan beberapa elemen interaktif seperti learning map dan beberapa format kuis di tengah video untuk meningkatkan engagement peserta ajar.

                    Studi Kasus: Project Monkey Melody Bersama Penerbit Erlangga

                    Di proyek video pembelajaran Erklika, platform digital milik Penerbit Erlangga, Monkey Melody diminta untuk menyusun rangkaian video eksperimen yang mengandung unsur interaktivitas supaya siswa tidak hanya menonton secara pasif.

                    Siswa diajak menonton video yang terdiri dari segmen teori dan segmen eksperimen. Selama segmen eksperimen, siswa akan dihadapkan oleh beberapa pertanyaan yang menguji pemahaman teori mereka sebelumnya. Jika menjawab dengan benar, video selanjutnya akan menampilkan hasil sesuai larutan yang dipilih. Jika tidak, mereka diberi kesempatan untuk mencoba ulang atau langsung melanjutkan. Pilihan ini tergantung pada jenis materi.

                    Elemen interaktivitas yang kami terapkan tidak dibatasi oleh kuis saja. Supaya dapat lebih terlibat dan menyerap materi dengan baik, kami menggabungkan elemen multimedia interaktif lain seperti game map. Dengan game map ini, siswa akan mendapatkan pengalaman seperti main game.

                    Rangkaian elemen ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang menarik sehingga meningkatkan retensi dan komprehensi.

                    Untuk mendukung interaktivitas, Monkey Melody menggunakan H5P. H5P adalah sebuah platform open-source yang memungkinkan pengguna untuk membuat, berbagi, dan menggunakan konten interaktif secara online. Dengan H5P, pengguna dapat membuat berbagai jenis konten interaktif seperti kuis, presentasi, video interaktif, dan game edukatif tanpa memerlukan skill pemrograman yang mendalam.

                    H5P ini juga Bisa di-embed ke berbagai Learning Management System (LMS) seperti Moodle, WordPress, atau platform internal perusahaan.

                    Untuk perusahaan yang ingin mengembangkan video learning dengan elemen interaktif, H5P dapat menjadi solusi yang ideal. H5P adalah platform open-source yang memungkinkan pengguna membuat, berbagi, dan menggunakan konten interaktif secara online.

                    Format yang disediakan juga beragam, loh. Jadi, kuis yang sederhana saja bisa disulap menjadi format yang lebih menarik. Selain yang telah disebutkan tadi, masih banyak elemen interaktivitas yang bisa diterapkan untuk menciptakan learning journey yang lebih bermakna bagi para siswa atau peserta ajar.

                    Setelah mengerjakan lebih dari 1000 multimedia pembelajaran, Monkey Melody memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, kami menawarkan pendekatan yang disesuaikan untuk memastikan bahwa setiap video yang kami buat dapat mencapai tujuan pelatihan yang diinginkan. Dengan menggunakan teknologi terbaru dan pendekatan kreatif, kami siap membantu perusahaan Anda dalam menghadapi tantangan pelatihan di masa depan.

                    Share:

                    M. Rizky Fajar Ramadhan

                    Di Monkey Melody, Fajar memastikan proses pembuatan multimedia learning berjalan dengan lancar dari pra-produksi hingga pasca produksi. Selain kadang terlibat langsung dalam pembuatan script dan storyboard, Fajar juga membantu menyusun konten-konten media sosial Monkey Melody.